"Hasil survei (LSI) tidak mengganggu. Malah kita termotivasi semangat bekerja sepenuh hati, sepenuh tenaga. Tentunya kita melakukan campaign yang positif, tidak menggunakan negative campaign," ujar Wakil Ketua Tim Pemenangan Ahok-Djarot, Wibi Andrino saat dihubungi detikcom, Jumat (18/11/2016).
Wibi menilai, adanya polemik pada pasangan Ahok-Djarot mulai dari penetapan status tersangka Ahok oleh Bareskrim Mabes Polri hingga penghadangan kampanye oleh sejumlah pihak turut membentuk persepsi di masyarakat terhadap pasangan petahana itu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Hal tersebut tentu berpengaruh terhadap persepsi masyarakat untuk dapat menentukan sikap. Dalam memilih ada rasa ketakutan. Kalau boleh kita perhatikan, kita meyakini dengan harapan besar pada 15 Februari Ahok Insya Allah dapat memenangkan Pilkada ini," lanjut Wibi.
Dari hasil survei LSI pimpinan Denny JA, turunnya elektabilitas Ahok-Djarot terjadi pasca Ahok ditetapkan sebagai tersangka oleh Badan Reserse Kriminal Mabes Polri pada Rabu, 16 November 2016 kemarin.
Dua pesaing Ahok-Djarot, yakni Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni dan Anies Baswedan-Sandiaga Uno seperti mendapat 'berkah'. Elektabilitas Agus-Sylvi dan Anies-Sandi kini jauh meninggalkan Ahok-Djarot.
Sebelum ada penetapan tersangka kepada Ahok, elektabilitas pasangan Cagub-Cawagub nomor urut 2 itu unggul dibanding kedua pesaingnya. Ahok-Djarot mendapatkan 24,6 persen, sedangkan pasangan Agus-Sylvi dan Anies-Sandi mendapat masing-masing 20,9 persen dan 20 persen.
"Setelah ada penetapan tersangka dari kepolisian, elektabilitas Ahok-Djarot turun menjadi 10,6 persen dan berada di urutan paling buncit. Sementara, dua pasangan pesaing Ahok-Djarot melesat. Anies-Sandi di urutan pertama dengan 31,9 persen dan Agus-Sylvi menempel ketat di urutan kedua dengan 30,9 persen," kata peneliti LSI Denny JA Ardian Sopa di Kantor LSI, Jalan Pemuda, Rawamangun, Jakarta Timur, Jumat (18/11). (nkn/erd)











































