Peneliti LSI Denny JA, Ardian Sopa membeberkan sejumlah penyebab turunnya elektabilitas Ahok-Djarot. "Alasan pertama karena kasus Surat Al Maidah. Dari mayoritas responden sebesar 73,2 persen mengatakan Ahok bersalah soal Surat Al Maidah. Sementara 65,7 persen mengatakan Ahok melakukan penistaan agama. Sedangkan 63,7 persen menginginkan Ahok diproses hukum," kata Ardian Sopa di kantor LSI Denny JA, jalan Pemuda, Rawamangun, Jakarta Timur, Jumat (18/11/2016).
Kedua, karena tingkat kesukaan masyarakat Jakarta pada Ahok yang terus menurun. Dari survei LSI sejak Maret hingga November 2016, menunjukkan bahwa kesukaan masyarakat Jakarta kepada Ahok terus menurun.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Alasan lain adalah karena banyak warga Jakarta yang khawatir akan banyaknya gejolak sosial bila Ahok kembali terpilih sebagai Gubernur DKI. Sedangkan di sisi lain, dua pasangan yang menjadi pesaing Ahok-Djarot, Agus Harimurti-Sylviana Murni dan Anies Baswedan-Sandiaga Uno makin menjadi pilihan untuk Jakarta yang lebih stabil tanpa penolakan dan gejolak sosial.
"Alasan terakhir adalah efek buruk status tersangka yang disandang oleh Ahok atas kasus dugaan penistaan agama. Selama ini pejabat publik yang menjadi tersangka selalu diminta untuk mundur dari jabatannya. Sedangkan Ahok malah dikampanyekan sebagai pejabat publik," tutur Ardian.
Ardian pun memberikan beberapa masukan agar pasangan Ahok-Djarot bisa menaikkan elektabilitas mereka. Salah satunya adalah dengan 'play victim'.
"Ahok bisa memposisikan dirinya menjadi korban dari kaum mayoritas. Karena selama ini masyarakat suka mendukung calon yang terzolimi dan teraniaya," ujar Ardian.
"Bila Ahok-Djarot dan tim suksesnya gagal untuk menaikkan elektabilitas, mereka akan tersingkir di putaran pertama," tutupnya. (bis/erd)











































