ICMET 2016 mengundang berbagai pakar kemaritiman berbagai negara antara lain dari Jepang yaitu Prof Takeshi Nakazawa dari International Association of Maritime Universities, kemudian dari Australia yaitu Prof Erika Techera dari The University of Western, dan Profesor Erry Yulian T Adesta dari International Islamic University, Malaysia.
Dalam event yang digelar Politeknik Ilmu Pelayaran (PIP) Semarang itu, 300 peserta dari berbagai kalangan hadir. Menhub mengatakan pendidikan kemaritiman kini penting karena Indonesia butuh sumber daya manusia di bidang itu untuk bekerja di wilayah perairan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia menjelaskan, lapangan kerja bidang maritim di Indonesia sedikit dibanding negara lain yang wilayah lautnya lebih sempit. Budi Karya Mencontohkan Filipina, dalam setahun setidaknya bisa menghasilkan 400 ribu sampai 500 ribu pelaut.
"Sementara itu kita kurang dari 100 ribu padahal penduduknya lebih besar," pungkas Budi Karya.
Langkah yang diambil pemerintah yaitu dengan sekolah vokasi dengan target 500 ribu pekerja dibidang maritim setiap tahunnya. Dari jumlah tersebut ditargetkan 200 ribu orang merupakan pelaut yang memperpanjang izinnya dan 300 ribu orang hasil dari pendidikan.
"Kita akan persiapkan Desember ini. Kita akan mohon kepada bapak Presiden resmika sekolah vokasi. Kerjasamanya dengan berbagai universitas," tandas Menhub.
"Kita punya visi lain, harus angkat kejayaan kita di maritim," imbuhnya.
Sekolah vokasi tersebut diharapkan bisa merangkul lulusan SMP dan SMA agar bisa terjun di dunia kerja khususnya bidang kemaritiman. Dengan sekolah vokasi nantinya lulusan SMP dan SMA cepat mempunyai kemampuan yang mumpuni di bidang itu.
"Kalau sekolah vokasi kan bisa langsung kerja. Kita berikan ruang agar mereka tetep bisa," tegasnya. (alg/rvk)











































