Analisis ini dikemukakan oleh peneliti departemen politik dan hubungan internasional Center for Strategic and International Studies (CSIS), Arya Fernandes, saat berbincang dengan detikcom, Kamis (17/11/2016).
"Kemungkinan strong voters tidak banyak berubah. Justru momentum ini menjadi cara bagi strong voters untuk melakukan konsolidasi untuk merapatkan barisan," kata Arya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Efeknya akan banyak terasa di pemilih yang swing voters. Efek untuk strong voters sangat kecil," kata dia.
Terbukti, kasus reklamasi Teluk Jakarta dan kasus pembelian lahan Rumah Sakit Sumber Waras tak membuat pendukung garis keras Ahok berpaling. Mereka adalah tipikal pemilih yang loyal dan tak terpengaruh isu negatif dari perspektif pro-Ahok.
Di sisi lain, tilik Arya, swing voters sebesar 25 sampai 30 persen dari total pemilih. Fluktuasi dan tarik menarik simpati yang ditujukan untuk swing voters masih akan terjadi.
"Ahok bisa rebound (memenangkan balik), stagnan, atau mengalami penurunan jumlah pemilih," kata Arya.
Suara pendukung Ahok akan stagnan bila kinerja relawan dan mesin partai tak bekerja dengan baik. Suara pendukung Ahok bisa mengalami penurunan bila Ahok melakukan blunder politik yang baru, atau juga ada perkembangan dalam kasus dugaan penistaan agama. Elektabilitas Ahok juga bisa melejit balik bila kandidat lain tak berhasil memikat publik.
"Meski rebound ini cukup berat bagi Ahok," tandas Arya.
(dnu/erd)











































