"Saya punya rumus hidup, perubahan itu dijemput, tidak ditunggu. Jadi bagi kepala daerah yang hanya menunggu, pemimpin itu ibarat MLM, bahasa Inggrisnya, proactive goverment," ujar Emil saat menjadi pembicara dalam International Business Integrity Conference (IBIC) 2016 di Hotel Sahid, Rabu (16/11/2016).
17 Tahun berkecimpung di dunia arsitek, Emil pernah memiliki sebuah usaha dengan 70 orang pegawai. Sebagai pimpinan usaha, dia harus mencari cara bagaimana caranya agar usaha itu terus berjalan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Forum ini yang memperuntukkan dananya untuk apa. Saya tidak pernah menyentuh transaksi proyeknya, namun hanya memberikan supervisi," jelas Emil.
"Saya sebagai wali kota tidak tahun hanya untuk minta LRT harus melobi Menkeu, Menhub, dirjen KAI sampai presiden. Setahun dilobi hasilnya enggak jelas, jadi melelahkan di republik ini untuk mencari perubahan. Jadi ada 2 pilihan, pasrah atau bergerak dengan risiko yang memiliki kepastian yang tidak jelas.
"Oleh karena itu tahun ini kami ngebut dengan KPBU. Bandung untuk infrastruktur 5 tahun hanya memiliki Rp 15 Triliun sementara kami butuh Rp 60 Triliun. Jadi pertanyaannya, menunggu wakikota 3 periode atau berupaya agar swasta yang membangun rumah sakit, jalan. Sementara saya hanya bisa membangun 2 puskesmas karena dananya terbatas," canda Emil. (rii/rvk)










































