Menurut Baikuni Yasin, salah satu tokoh yang melestarikan kaligrafi di Lengkong Kulon, bahkan semenjak tahun 1975 hingga 1980-an, warga dari kampung ini selalu menjadi penulis resmi Alquran versi Departemen Agama Republik Indonesia.
Sayangnya, meskipun banyak warga mahir kaligrafi, keinginan untuk membangun museum seni penulisan Alquran belum ada di Banten.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
![]() Cawagub Banten Embay Mulya Syarief di Lengkong Kulon, Pagedangan |
Merespons permintaan tersebut, menurut Embay, daerah Lengkong memang tempatnya cikal bakal kaligrafi berkembang di Banten dan terkenal sebagai kampung ulama.
Kaligrafi, kata Embay, adalah bagian dari syiar Islam di Banten. Seni ini menurutnya butuh perhatian, apalagi kaligrafi merupakan seni menulis ayat Alquran dan Hadis yang isinya nasihat-nasihat dan ayat suci.
"Ragam hias nulis Alquran tidak boleh salah, beda titik bisa salah arti. Kaligrafi ini harus dijaga, jangan sampai semangat untuk kaligrafi ini menurun," kata Embay kepada wartawan.
Soal permintaan didirikannya museum, Embay berjanji akan memperjuangkan agar didirikan di Kampung Lengkong.
"Permintaan museum, kalau nanti di pemerintahan saya akan berjuang museum ini bisa terwujud di kampung Lengkong Kiai ini," imbuhnya. (bri/fdn)