Memasuki musim dingin, masyarakat dimanapun lebih suka ngendon di rumah. Jalan-jalan jadi sepi, apalagi di pinggiran sungai. Lain lagi di Seoul, tua muda "dipaksa" keluar untuk menikmati pesta lampion di sungai kecil tengah kota, Cheonggyecheon.
Dalam beberapa hari terakhir ini, penduduk Seoul disuguhi atraksi cukup kreatif, yakni aneka bentuk lampion yang dipasang persis hanya beberapa centimeter di atas aliran sungai Cheonggyecheon. Bukan berbentuk lampu sebagaimana lazimnya, namun berupa aneka patung yang bernilai kesejarahan hingga tokoh khayalan yang disukai anak-anak.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Foto: M Aji Surya/detikcom |
Walhasil, luar biasa. Sebuah upaya kecil namun tiap malam mampu mengundang ribuan manusia berkerumun melupakan dinginnya malam. Mereka berfoto ria, bercengkerama, pacaran, dan berjalan di pinggir sungai yang indah. Bahkan, mungkin mereka juga lupa bahwa di bagian lain kota ini sedang berlangsung demo besar-besaran menuntut pejabat tertinggi untuk turun dari kursi kekuasaan.
Bukan hanya menikmati, warga juga diajak terlibat untuk membuat lampion. Disediakan satu tempat khusus agar mereka berkreasi. Begitu selesai, bisa dilepas di sungai yang mengalir demikian jernihnya. Wow!
Yang jelas, negeri yang relatif miskin sumber daya alam ini berhasil memacu kreatifitas warganya dengan sangat tinggi. Itulah kekuatan manusia yang justru menentukan segalanya. Dengan akal, maka semua masalah bisa disiasati dan dicarikan jalan keluarnya.
Kreatifitas model membuat lampion tersebut dalam bentuk yang lain juga bisa dipraktekkan di Indonesia. Banyak sungai kecil dan besar yang dibiarkan gelap tak bernyawa manakala malam datang. Bahkan tidak sedikit justru menjadi tempat tak senonoh atau lahan nyabu dan ngobat. Ini tentu mengerikan dan menyia-nyiakan pemberian Tuhan.
Foto: M Aji Surya/detikcom |
Banyak yang yang bilang bahwa manusia kita sangat kreatif, karenanya harus mampu disalurkan dalam aneka kegiatan yang positif. Tidak hanya kreatifitas yang merefleksikan budaya masa lalu, namun juga menciptakan budaya-budaya baru yang disukai dan dibutuhkan masyarakat. Itulah salah satu ciri masyarakat modern.
*Penulis adalah WNI yang tinggal di Korsel. (try/try)












































Foto: M Aji Surya/detikcom
Foto: M Aji Surya/detikcom