Percakapan Telepon Dibuka, Irman Gusman Minta Dirut Bulog untuk Bina Memi

Percakapan Telepon Dibuka, Irman Gusman Minta Dirut Bulog untuk Bina Memi

Nathania Riris Michico - detikNews
Selasa, 15 Nov 2016 18:06 WIB
Percakapan Telepon Dibuka, Irman Gusman Minta Dirut Bulog untuk Bina Memi
irman Gusman (hasan/detikcom)
Jakarta - Dirut Bulog Djarot Kusumayakti memberi keterangan terkait kasus gula impor yang menjerat eks Ketua DPD Irman Gusman. Dalam kesaksiannya, Djarot menyebut tidak mengetahui alasan Irman merekomendasikan Memi sebagai distributor gula ke Padang pada dirinya.

Dia juga menyebut tidak mengenal Memi dan berkomunikasi dengan Memi setelah mendapat nomor telepon dari Irman Gusman.

"Saya baru tahu (Memi) setelah kasus mencuat," kata Djarot di PN Jakarta Pusat, Jl Bungur Besar, Jakarta Pusat, Selasa (15/11/2016).

"Apakah Irman Gusman sebagai ketua DPD memberi anjuran-anjuran bagaimana supaya Bulog jadi lebih baik?" tanya jaksa penuntut umum (JPU).

"Tidak ada," jawab Djarot.

Jaksa penuntut umum pun memperdengarkan rekaman berdurasi sekitar 7 menit antara Djarot dengan Irman Gusman.
Rekaman itu dibuat transkrip beserta waktu perbicangan secara rinci dan ditayangkan di ruang sidang.

Dalam pembicaraan tertanggal 22 Juli 2016 tersebut, Irman berinisiatif menghubungi Djarot dan meminta ada supply gula impor ke Padang.

"Ada permintaan dari Sumbar. Itu kan stabilitas gulanya belum pas sekali. Kalau bisa Pak Djarot supply kesana ya," kata Irman Gusman dalam rekaman yang diperdengarkan di ruang sidang.

Dalam rekaman tersebut, Irman meminta kepada Djarot untuk menyanggupi hal tersebut. Irman juga memberi nomer telepon Memi pada Djarot.

"Asal Pak Djarot bina saja, namanya Bu Memi, sebetulnya teman lama itu. Pak Gubernur dukung, semua dukung, Sekjen Perdagangan dukung," kata Irman.

"Siap pak," ujar Djarot.

"Jadi kalau bisa Pak Djarot bina tuh. Nanti saya kasih namanya Bu Memi, nanti saya kasih nomernya Pak Djarot," lanjut Irman.

"Siap Pak," jawab Djarot lagi.

Setelah rekaman berakhir, JPU bertanya maksud kenapa Djarot yang selalu berkata 'siap' pada Irman yang bukan merupakan atasannya.

"Untuk kepada orang terhormat saya tidak memanggil nama dan berkata siap untuk menghormati," ujar Djarot.

Dia mengaku dalam posisi ditelepon oleh Irman dan tidak dalam diskusi. Dia menekankan hanya berniat baik pada Ketua DPD meskipun itu bukan kewenangannya.

Setelah itu, JPU juga memperdengarkan rekaman pembicaraan Djarot dengan Memi selang beberapa menit setelah Djarot berbincang dengan Irman.

"Begini terkait gula saya mohon mungkin untuk Sumbar, kasih ada destinasi ke Sumbar," ujar Memi dalam rekaman.

"Oke nanti saya telepon Pak Benhur," kata Djarot menyanggupi hal tersebut.

Dia berkata pada Memi akan mencoba menyuruh Benhur untuk bisa menangangi impor gula tersebut. Setelah itu, Memi bertanya apakah boleh menghubungi Djarot dan Djarot memperbolehkannya.

"Kok saudara menyetujui terkait permohonan itu. Belum ngecek ke Benhur kok setuju saja sama Memi?" tanya jaksa penuntut usai mendengar rekaman perbincangan.

"Tidak ada persetujuan yang ada saya hanya ingin melaksanakan melalui Memi karena itu diluar kwenangan saya," jawab Djarot.

Dicecar oleh majelis hakim, Djarot pun menegaskan menghubungi Memi hanya karena diberi nomer telepon oleh Irman Gusman.

"Ada enggak pengaruh yang dari tidak ingin berbuat jadi ingin berbuat? Pengaruh Irman Gusman ada enggak?" tanya ketua majelis Nawawi Pamulango.

"Karena beliau orang terhormat, jadi ada pengaruhnya untuk saya lakukan segera," jawab Djarot.

Sebelumnya, dalam surat dakwaan yang dibacakan jaksa pada KPK, di Pengadilan Tipikor, Jl Bungur Besar Raya, Jakarta Pusat, Selasa (8/11/2016), terungkap bahwa ada kongkalikong antara Irman dan Xaveriandy serta Memi.

"Saudara Irman Gusman menyampaikan kepada Dirut Bulog Djarot Kusumayakti bahwa dia merekomendasikan terdakwa (Memi) sebagai teman lamanya yang memiliki CV Semesta Berjaya sebagai pihak yang dapat dipercaya untuk menyalurkan gula impor tersebut," ujar jaksa (8/11).

Djarot mengiyakan sampai akhirnya turunlah kuota untuk CV SB. Selanjutnya, meski Memi sempat melapor bahwa harga gula turun di Sumatera Barat menjadi Rp 11.700 dari Rp 12.100 per kg, namun pada akhirnya dia tetap menyepakati fee Rp 300 per kg kepada Irman. (nth/asp)


Berita Terkait