Ketua DPR soal Gelar Perkara Ahok: Kita Harus Hormati Apapun Hasilnya

Ketua DPR soal Gelar Perkara Ahok: Kita Harus Hormati Apapun Hasilnya

Elza Astari Retaduari - detikNews
Selasa, 15 Nov 2016 17:13 WIB
Ketua DPR soal Gelar Perkara Ahok: Kita Harus Hormati Apapun Hasilnya
Foto: Lamhot Aritonang
Jakarta - Polri masih melakukan gelar perkara video pidato kontroversi Basuki T Purnama (Ahok) yang diduga menistakan agama. Ketua DPR Ade Komarudin meminta semua pihak untuk menerima apapun keputusan hasil gelar perkara Mabes Polri itu.

"Harus kita pesankan kepada anak bangsa terutama yang mempermasalahkan saudara Ahok itu, jangan sampai terjadi seperti di Alexandria seorang putri dihukum sadis di depan umum, itu sangat tidak beradab," ungkap Ade.

Hal tersebut disampaikannya saat menemui perwakilan Forum Silaturahmi Anak Bangsa (FSAB) di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (15/11/2016). Pertemuan antara pria yang akrab disapa Akom itu dengan FSAB adalah untuk membahas soal permasalahan-permasalahan yang tengah menjadi sorotan, termasuk soal Ahok.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kita serahkan kepada hukum, memenuhi rasa keadilan masyarakat karena hari-hari ini cukup Indonesia cukup mencekam masalah kebangsaan kita," tuturnya.

Hal yang mencekam menurut pria yang disapa Akom itu adalah mulai dari demo 4 November berujung kericuhan. Kemudian bom yang terjadi di Samarinda dam Singkawang. Akom sendiri berharap dalam menyampaikan aspirasinya, masyarakat harus menjunjung tinggi aspek perdmaian.

"Cukup sudahlah tahun 98, kalau mau nyampaikan aspirasi silakan, mau demonstrasi silakan, mau 2,5 juta seperti kemarin silakan. Tapi tetap menjaga keamanan, kenyamanan, dan kebersihan," kata Akom.

"Harus damai, sampaikan pendapat itu tidak harus teriak-teriak dan merusak perdamaian," imbuhnya.

Mengenai gelar perkara yang dilakukan Mabes Polri terkait Ahok, Akom meminta semua pihak untuk mengikuti proses hukum. Intervensi dari setiap kalangan, termasuk dari publik, menurutnya tak bisa dibenarkan.

"Kita ingin negara ini ada masalah dalam demokrasi harus selesaikan secara hukum, walaupun penegakan hukum belum begitu baik, kita harus menghormati apapun keputusannya," ucap Akom usai pertemuan.

Politisi Golkar itu meminta agar masyarakat mempercayai gelar perkara yang dilakukan Polri. Apapun hasilnya nanti, kata Akom, warga negara Indonesia diharapkan tetap mewujudkan perdamaian.

"Apapun hasilnya, persatuan nasional tetap harus terjaga. Jangan korbankan negeri ini, tolong penegak hukum juga selami rasa keadilan masyarakat. Jangan sekali-sekali mendengarkan politisi, eksekutif, siapapun golongannya tentang hal ini. Tolong independen," pintanya.

Masyarakat diminta untuk mencontoh FSAB yang merupakan forum berkumpulnya anak-cucu tokoh bangsa terdahulu. Mulai dari anak veteran, pejuang kemerdekaan, tapol, hingga PKI.

"Anak cucu bersatu padu secara moral untuk kepentingan negara ini. Semua tokoh bangsa di masa lalu yang pernah beda pendapat, ideologi, menghasilkan pertumpahan darah, mereka bertemu wadah organisasi untuk melupakan itu dan melupakan konflik," beber Akom.

"Saya minta kepada forum ini untuk memberi contoh. Bersatu padu, memberikan suri tauladan, mempromosikan agar kita satu. Saya sangat apresiasi dalam organisasi ini, terutama dalam situasi negara kita saat ini," sambung dia.

Kepada semua stake holder, Akom berharap agar mengedepankan persatuan dan kesatuan dalam berbangsa dan bernegara. Apalagi dinamika politik pilkada, khususnya Pilgub DKI tengah memanas.

"Jangan hanya karena Pilkada DKI, kebangsaan kita tercerai berai, terlalu mahal karena Pilkada DKI pecah kebangsaannya, kita punya pondasi yang kuat, kita tidak membedakan apapun, mengharagi pluralisme, berhasil melupakan konflik ideologi dan bersatu," ujar. Akom.

"Saya terus terang saja sangat tidak ikhlas kalau negeri ini terkoyak hanya karena Pilkada DKI. Rasanya terlalu kecil, tidak ada apa-apanya Pilkada DKI. Kita nggak boleh membayar mahal untuk persatuan dan kesatuan nasional hanya karena Pilkada DKI," lanjutnya.

Untuk itu, Akom mengajak semua anak bangsa bergandengan tangan. Dengan demikian kesejukan nasional bisa kembali terwujud.

"Kita tentu harus menjaga agar di hari-hari ke depan tidak terjadi lagi benturan-benturan seperti terjadi di masa lalu," tutup Akom. (ear/erd)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads