Gubernur: Jangan Ada Pihak yang Memanfaatkan Bencana Nias
Senin, 04 Apr 2005 23:43 WIB
Medan - Gubernur Sumatera Utara meminta kepada semua pihak baik yang ada di dalam atau di luar Nias untuk tidak memanfaatkan bencana Nias demi meraih keuntungan semata. Karena dampaknya akan merusak citra Indonesia di mata internasional.Pernyataan ini disampaikan Gubernur Sumatera Utara, Rizal Nurdin kepada wartawan Senin (4/4/2005) merespon kesimpangsiuran data korban maupun skala kerusakan yang terjadi di Nias akibat bencana gempa 28 Maret lalu. Menurut Rizal, ada pihak yang sengaja mengekspos secara berlebihan atas bencana gempa yang terjadi di Nias dengan cara membesar-besarkan jumlah korban dan kerusakan yang diakibatkan bencana gempa 28 Maret lalu. Tanpa menyebutkan pihak yang dimaksud, gubenur mensinyalir informasi berlebihan tersebut sengaja diekspos sehingga dapat merusak citra Indonesia di mata internasional. Disebutkan Rizal, kerusakan infrastruktur yang terjadi di Nias tidak separah seperti dalam pemberitaan selama ini. Beliau memperkirakan persentase kerusakan yang terjadi di Pulau Nias akibat gempa hanya mencapai 40 sampai 50 persen. "Saya bersama menteri sosial sudah meninjau langsung kerusakan yang ada di Nias. Dan skala kerusakannya tidak separah seperti yang beredar selama ini," ujar Gubernur.Gubernur menjelaskan, dari hasil pengalamatan di lokasi bencana, tidak seluruh bangunan yang ada di Nias hancur akibat gempa. Karena rumah-rumah warga di Kabupaten Nias dan Kabupaten Nias Selatan umumnya dibuat dari kayu. "Korban terbanyak berada di Gunung Sitoli, karena korban tewas tertimbun di reruntuhan bangunan berlantai dua atau tiga. Itu pun tidak keseluruhan, karena masih ada rumah yang hanya mengalami kerusakan kecil," ujar Rizal Nurdin.Rizal Nurdin sempat bersitegang dengan salah seorang mantan anggota DPRD Nias yang menyebutka warga di pengungsian yang kelaparan. Ini terjadi pada hari ke empat pasca bencana atau sebelum presiden berkunjung ke Pulau Nias. Namun kondisi itu tidak terbukti setelah Rizal mengajak mantan anggota DPRD tersebut membuktikan ke kamp-kamp pengungsian."Sebelumnya saya sudah bertemu dengan warga. Sengaja saya menyamar berpakaian biasa untuk mengetahui kondisi warga yang berada di pengungsian. Dan tidak ada yang kelaparan. Bahkan ada beras bantuan yang dijadikan bantal tidur," ujar Gubernur. Gubernur menyesalkan adanya pernyataan-pernyataan berlebihan tentang data korban dan jumlah kerusakan di Nias. Sebab hal tersebut akan berdampak negatif bagi citra pemerintah sendiri. Sebab sejumlah negara yang telah meninjau ke daerah bencana tidak menemukan kesesuaian dari informasi yang mereka terima.Dikatakan Rizal, utusan PBB yang turun langsung ke daerah bencana juga memperkirakan kerusakan yang terjadi di Nias tidak separah informasikan sebelumnya. Sama halnya yang dialami Paul S Berg, Konsulat Jendral Amerika Serikat di Medan yang berhasil menempuh jalur darat dari Gunung Sitoli ke kawasan Teluk Dalam, Kabupaten Nias Selatan yang sebelumnya diinformasikan tidak dapat dilalui roda empat. Akibat informasi berlebihan tersebut, kata Gubernur, sejumlah negara yang awalnya serius memberikan bantuan akhirnya menarik diri karena bantuan yang sudah mereka siapkan tidak sesuai dengan kerusakan yang terjadi."Setelah mereka tinjau sendiri ke lokasi bencana, ternyata tidak separah yang diberitakan. Tentu ini dapat merusak citra pemerintahan kita. Mereka pikir pemerintah terlalu membesar-besarkan," ujar Gubernur. Kendati begitu, Rizal Nurdin tidak ingin menyalahkan sepenuhnya adanya informasi berlebihan tersebut. Selain karena panik, Nias selama ini dikenal daerah tertinggal, sehingga banyak warga miskin. Ada yang berharap bencana ini bisa mengangkat Nias dari keterisoliran. "Kami menyadari bahwa selama ini pembangunan di Nias dilupakan. Kami berharap dalam 2 tahun ke depan, kehidupan di Nias akan lebih diperhatikan lagi," ucap Rizal.Media Jangan Buat IsuSelain itu juga, Gubenur meminta media massa tidak memberikan informasi berlebihan tentang adanya bencana susulan yang akan terjadi di wilayah Nias. Informasi yang kebenarannya masih simpang siur tersebut menyebabkan penanganan bencana di Nias terkendala sebab warga banyak yang eksodus ke luar Nias.Dikatakannya, perekonomian di Nias harusnya sudah dapat berjalan seperti biasa karena masih banyak terdapat bangunan pertokoan yang tidak mengalami kerusakan. Apabila ini bisa diaktifkan kembali, roda perekonomian masyarakat akan berangsur-angsur normal. Namun akibat gencarnya pemberitaan soal adanya gempa susulan dibarengi tsunami warga enggan untuk membuka toko. "Warga ketakutan. Mereka ramai-ramai antri di pelabuhan Gunung Sitoli untuk meninggalkan Nias menuju Sibolga. Ini harusnya tidak boleh terjadi," ucap RizalNurdin.Gubernur berharap, para pakar maupun media tidak mengekspos berlebihan soal adanya bencana lanjutan. "Saya berharap para pakar harus menahan diri untuk tidak mengeluarkan komentar-komentar soal adanya bencana susulan di Nias atau wilayah lain. Karena kebenaran dari informasi tersebut belum tentu terjadi," tandas Rizal.
(mar/)











































