Apa kata tim sukses Ahok-Djarot terhadap hasil survei LKPI?
Juru bicara pasangan Ahok-Djarot, Bestari Barus, meragukan hasil survei yang dikeluarkan oleh LKPI. Menurut Bestari, hasil survei yang dikeluarkan oleh LKPI tidak mencerminkan keadaan masyarakat Jakarta saat ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Hal yang terjadi (kasus Ahok) harus dipertimbangkan, agar hasil survey mengindahkan hal-hal tersebut," lanjutnya.
Bestari juga mempertanyakan metode dan pola survei yang dipakai oleh LKPI. Menurutnya, metode dan pola survei harus dilakukan pengayaan, agar hasilnya lebih bisa mewakili suara masyarakat Jakarta. Bestari menganggap saat ini banyak masyarakat Jakarta yang tidak mau menjadi responden survei. Mereka lebih memilih untuk merahasaikan pilihannya pada Pilgub DKI 2017.
"Apakah metode yang dipakai atau pola yang dipakai, ini kan perlu pengayaan model maupun pola dalam survei," tutur Bestari
"Kan sekarang banyak orang yang sudah tidak mau disurvei. Namun mereka sudah menetapkan pilihan mereka lebih dini. Apa yang semacam itu sudah tersentuh? Kalau tidak, cobalah disentuh agar bisa merepresentasikan (suara masyarakat)," imbuhnya.
Walaupun begitu, dirinya tetap mengapresiasi kerja keras yang sudah dilakukan oleh tim sukses Ahok-Djarot. "Kita apresiasi kepada tim yang sudah bekerja lebih keras," ujar Bestari.
Sebelumnya, hasil lembaga survei dari LKPI secara mengejutkan menempatkan pasangan Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni berada di posisi teratas dalam elektabilitas di Pilgub DKI 2017. Sementara pasangan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok)-Djarot Saiful Hidayat berada di posisi paling buncit.
Agus-Sylviana memperoleh posisi elektabilitas sebesar 27,6% mengungguli pasangan Anies-Sandi yang berada di posisi kedua sebesar 25,9% dan petahana Ahok-Djarot berada pada angka 24,6 %. Hasil ini dipaparkan oleh Direktur Eksekutif LKPI, Dendi Susianto, di Restoran Pulau Dua, Jalan Gatot Subroto, Jakarta Pusat, Senin (14/11).
Pengumpulan data survei berlangsung pada tanggal 25 Oktober-3 November 2016. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara tatap muka dengan menggunakan kuesioner terhadap 1.200 responden. Respoden ditentukan secara proporsional terhadap proyeksi jumlah pemilih di DKI Jakarta yang tersebar di enam wilayah yakni Jakarta Barat, Jakarta Timur, Jakarta Utara, Jakarta Selatan, Jakarta Pusat, dan Kepulauan Seribu. Margin of error diperkirakan sebesar +/- 2,8% pada tingkat kepercayaan 95%. (bis/jor)











































