Saleh mengatakan, aksi teror di depan gereja tersebut merupakan tindakan biadab. Terlebih aksi itu dilakukan saat sejumlah umat sedang beribadah di gereja tersebut.
"Penyerangan terhadap Gereja Oikumene di Samarinda ketika umat sedang beribadah pada hari Minggu, 13 November 2016, merupakan tindakan tidak beradab yang mengganggu stabilitas dan mencoreng wajah bangsa kita. Serangan bom molotov yang menyebabkan sejumlah warga gereja tersebut, khususnya anak-anak, mengalami luka parah itu menunjukkan masih ada oknum-oknum yang ingin merusak persatuan bangsa kita justru pada saat kita sedang berusaha menjaga ketenteraman dan kerukunan hidup antar umat beragama," kata Saleh dalam keterangan tertulis yang diterima detikcom, Senin (14/11/2016).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"DPD RI mengimbau kepada segenap komponen bangsa untuk merapatkan barisan dan bersatupadu menjaga keutuhan dan kerukunan nasional dan tidak terpancing untuk memperkeruh keadaan. Semua anak bangsa agar bersatu hati menjaga keamanan negeri kita dan melawan gangguan keamanan dalam bentuk apapun sebab tindakan-tindakan yang dapat memicu instabilitas, tak boleh dibiarkan terjadi di bumi Nusantara," tegas Saleh.
Selain itu, Saleh berharap agar para korban penyerangan bom mololtov tersebut bisa segera sembuh. "Semoga Tuhan Yang Maha Esa menjaga bangsa kita dan melindungi kita semua agar terhindar dari kejadian seperti ini di masa yang akan datang," katanya.
(jor/bis)











































