"Di sini dulu mata pencahariannya bercocok tanam, sekarang jadi pedagang kecil dan buruh. Karena pencahariannya kecil masyarakat banyak terjangkit rentenir," kata seorang tokoh masyarakat bernama Berti di depan Embay Mulya Syarief, Karang Tengah, Kota Tangerang, Senin (14/11/2016).
Berti menambahkan karena terlibat rentenir, banyak warga Karang Tengah susah menyekolahkan anak-anak. Pemerintah belum perduli dan tidak ada yang datang. 30% keuntungan warga jualan kelontong selalu habis oleh rentenir.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mendengar itu, Embay lalu bercerita mengenang masa lalu dirinya. Menurut Embay, ia lahir juga dari keluarga biasa. Bapaknya adalah tentara jaman kemerdekaan, ibunya guru ngaji asal kampung di Pandeglang.
Meskipun keadaan memprihatinkan, itu tidak membuat dirinya berkecil hati. Semenjak SMA Embay mengaku sudah biasa usaha sendiri. Didikan agar disiplin, berani, membuat dirinya bisa memenuhi kebutuhan 9 adiknya.
"Alhamdulillah, saya bisa tumbuh menjadi pengusaha, punya karyawan ribuan. Dan selalu mimpin karyawan itu selalu salat jamaah. Dhuhur, Asyar, saya itu selalu jamaah. Maghrib, Isa, Subuh selalu jamaah, setelah salat saya selalu tanya apa kebutuhan karyawan" kata Embay Mulya di depan masa kampanye.
Menurut Embay, masalah kemiskinan memang begitu melekat di Provinsi Banten. Miskin menurutnya menjadikan orang bodoh, kebodohan malah jadi akar kemiskinan. Makanya, pendidikan dan kesehatan menurutnya satu paket persoalan yang perlu diselesaikan.
Soal kemiskinan ini, menurutnya memang sudah pasti ada yang salah dengan sistem di Banten yang menyebabkan masyarakat bergelut dengan kesusahan selama ini. Ada tiga hal yang ia petakan. Pertama masyarakatnya yang malas, aturan yang tidak berpihak ke orang lemah, atau ada orang yang serakah.
"Duit yang dikorupsi kalau dibagikan ke masyarakat, bebas itu sama rentenir. 30 persen kali APBD Banten selama 13 tahun dikorupsi. Tapi kemana duitnya?" kata Embay.
Embay berujar, semenjak tahun 1995 sampai 2000, ia pernah menjadi ketua MUI yang membidangi masalah ekonomi umat. Ia pernah mempelopori Baitul Mal Wa Tamwil sebuah lembaga mikro syariah yang bisa membebaskan warga dari jeratan rentenir.
"Mendirikan BMT saya seperti Fardu Kifayah (kewajiban). Di Tangerang ada jejak saya, ada Islamic Village dan BMT untuk menanggulangi riba dan rentenir," kata Embay memberikan solusi agar tidak meminjam uang ke renternir.
Foto: Bahtiar Rivai/detikcom |
Embay berjanji, dunia usaha kecil menengah akan lebih diperhatikan. Apalagi, secara pribadi dirinya juga memiliki ribuan karyawan. Di Serang, menurut Embay, pintu rumahnya selalu terbuka. Ada musala yang di dalamnya berkarung-karung beras yang bebas diambil siapapun. Kebiasaan itu dilakukan bahkan sebelum dirinya menjadi calon wakil gubernur.
"Mudah-mudahan kita satu pola pikir, mari benahi Banten supaya bangkit. Tentu tidak hanya mengandalkan Rano dan saya tanpa keterlibatan masyarakat," ujar Embay.
Halaman 2 dari 2












































Foto: Bahtiar Rivai/detikcom