"Republik ini didirikan oleh anak muda. Republik ini digagas oleh orang yang punya pandangan ke depan," kata Anies di DPP Perindo, Jl. Diponegoro, Menteng, Jakarta Pusat, Senin (14/11/2016).
Diskusi ini dihadiri oleh kader Perindo, mahasiswa, dan sejumlah warga. Anies menambahkan, kerap kali ditemukan kesulitan dalam memahami arti pemuda. Menurutnya, pemuda ialah orang yang memikirkan masa depan. Makna ini jadi negasi atas makna tua.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kriteria muda, dalam konteks para pendiri republik ini adalah orang-orang yang memikirkan masa depan. Orang-orang yang membayangkan Indonesia dalam perspektif masa depan," tambahnya.
Anies kemudian menceritakan soal sejarah perkembangan Indonesia. Menurutnya, para pendiri republik memiliki umur yang bervariasi. Meski begitu, mereka memiliki semangat pemuda.
"Maka kalau kita lihat sejarah, orang-orang pendiri ini umurnya bervariasi. Tapi spiritnya muda. Agus Salim adalah yang paling senior. Tapi punya semangat muda. Ia tidak beda dengan Sujatmoko yang pada saat itu masih sangat muda," tuturnya.
Semangat itu lalu diwujudkan dengan berkumpulnya pemuda di Jakarta untuk membuat rumusan persatuan. Mereka kemudian membuat sumpah pemuda pada 28 Oktober 1928. Menurut Anies, hal ini dilakukan untuk membuat fondasi persatuan bangsa.
"Yang menarik dari sumpah pemuda, yang pada masanya dikenal dengan janji setia, sumpah setia. Yang kemudian dikenal dengan sumpah pemuda. Mengapa mereka lakukan itu?" ujar Anies.
"Jadi, ketika para pemimpin-pemimpin muda berbicara tentang masa depan, yang jadi benak mereka pertama adalah membuat fondasi yang menyatukan. Membuat fondasi persatuan," imbuhnya.
Anies mengatakan, bangkitnya generasi pemuda ini bergantung pada sistem pendidikan yang dijalankan. Ia berharap dengan pendidikan yang baik dapat menumbuhkan generasi pemuda yang memiliki visi bangsa.
Sebab, hal ini sudah dibuktikan dalam perjalanan bangsa Indonesia. Menurutnya, konsep nasionalisme bangsa tumbuh dari pendidikan.
"Yang menarik, nasionalisme ditumbuhkan, bukan lewat garis darah. Bukan lewat garis etnik, bukan dari garis suku. Tapi dari satu konsep yang dimunculkan dari pendidikan. Menjadi Indonesia adalah menjadi suprasuku. Bukan meninggalkan suku dan etnik. Ini tidak ditemukan di tempat lain," tuturnya.
(jbr/imk)











































