Macam-macam keluhan warga yang diterima. Mulai dari urusan perkotaan hingga ke persoalan pribadi yang semestinya bukan wewenang Sumarsono menyelesaikan.
"Ada urusannya dari yang lucu sampai serius. Yang lucu misalnya datang sama saya, alasannya 'saya mohon izin pada bapak Plt Gubernur untuk bunuh diri'," kata Sumarsono di Balai Kota DKI, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Senin (14/11/2016).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Enggak mungkin bapak gubernur bisa membantu karena persoalan saya berat," katanya menirukan perkataan pengadu.
"Penampilannya kayaknya sih dulu pengusaha tapi pengusaha bangkrut kemudian menjadi terperosok secara ekonomi," sebut dia.
Soni-sapaan Sumarsono-langsung memberikan nasihat sprititual kepada pengadu. Soni berupaya meyakinkan pengadu tindakan bunuh diri adalah perbuatan dosa.
"Akhirnya saya bilang bunuh diri itu dibenci oleh Tuhan, masih ada cara yang lain sebagaimana jalan, banyak jalan menuju Roma, begitu," tuturnya.
Bagi Soni, mendengar pengaduan masyarakat sangat penting. Dari aduan ini, Pemprov mengetahui kondisi di tengah masyarakat untuk diputuskan penanganannya.
"Biasalah, minta rusun, biaya sekolah, terus kemudian biaya hidup, penopang hidup, kemudian pembebasan SPP untuk sekolah anaknya, untuk kos, sampai ke sana ada. Bahkan tiket sampai perjalanan pulang ke kampung juga ada. Ada juga yang sifatnya umumnya proposal, minta bantuan uang," terangnya.
Namun harus ada pemilahan dari aduan yang masuk. Soni memisahkan keluh kesah pribadi pengadu dengan keluhan atas layanan publik Pemprov DKI.
"Saya komitmen setiap pengaduan saya kira tidak ada satu dua hari pasti saya follow up, minimal saya panggil kepala dinas yang menangani. Ini sudah saya jalankan," kata dia. (fdn/fdn)










































