"Kalau kita bicara objektif. Kalau tren turun merupakan kondisi yang mengkhawatirkan," kata peneliti Lingkaran Survei Indonesia, Adjie Alfaraby dalam Diskusi Polemik 'Hitam Putih Pilkada' di Warung Daun, Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (12/11/2016).
Hasil survei Lingkaran Survei Indonesia (LSI) pimpinan Denny JA mencatat, elektabilitas Ahok-Djarot sebesar 24,6 persen. Agus-Sylviana berada di peringkat dua dengan 20,9 persen, sedangkan Anies-Sandiaga elektabilitasnya tercatat 20 persen. Sementara angka swing voters atau belum menentukan pilihan yakni 34,5 persen.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Adji, ada tiga strategi yang harus dilakukan agar pasangan Ahok-Djarot memenangkan Pilgub DKI 2017. Swing voters juga jadi penentu.
"Seberapa baik strategi petahana merebut pemilih Muslim. Kedua, status hukum Pak Ahok akan berpengaruh, apakah suara akan reborn kembali. Kemudian Anies-Sandi dan Agus-Sylviana, seberapa besar kemampuan mereka menarik swing voter," papar Adji.
Adanya penurunan popularitas pasangan pertahana tidak boleh diartikan kekalahan calon Ahok-Djarot. Setiap pasangan calon memiliki kemungkinan sama untuk menang Pilkada.
"Dari data seperti ini, semuanya jangan terlalu tergesa-gesa akan menang. Meski turun, petahana bisa menang. Meski dia (Agus-Sylviana, dan Anies-Sandiaga) penantang, selain isu, swing voters di atas 30 persen itu penentu," kata pengamat politik, Hanta Yuda dalam acara yang sama.
(imk/imk)











































