Peringati 18 Tahun Tragedi Semanggi, YLBHI Gelar Nonton Bareng

Peringati 18 Tahun Tragedi Semanggi, YLBHI Gelar Nonton Bareng

Haris Fadhil - detikNews
Jumat, 11 Nov 2016 23:37 WIB
Peringati 18 Tahun Tragedi Semanggi, YLBHI Gelar Nonton Bareng
Foto: Haris Fadhil/detikcom
Jakarta - Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) melakukan peringatan 18 tahun Tragedi Semanggi I. Peringatan dilakukan dengan kegiatan nonton bareng dan diskusi film dokumenter Saksi Hidup Tragedi Semanggi 1998 produksi TV7 tahun 2005.

"Acara nonton bareng ini kita lakukan untuk kembali mengenang Tragedi Semanggi I yang terjadi 18 tahun lalu," ujar Atika sebelum pemutaran film di Kantor LBH Jakarta, Jalan Pangeran Diponegoro nomor 74, Jakarta Pusat, Jumat (11/11/2016).

Hadir dalam kegiatan ini Ramdan, Widodo dan Bona sebagai penanggap dalam diskusi setelah pemutaran film. Ramdan yang merupakan anggota tim pembuatan film dokumenter ini menyatakan bahwa film ini dibuat dengan niat menjadi film dokumenter tanpa wawancara dengan ahli sejarah.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Jadi kita waktu itu ingin buat film dokumenter sesuai kejadian pada bulan-bulan tertentu. Seperti yang Semanggi ini pada bulan November karena sangat besar kejadian ini," katanya setelah pemutaran film.
Peringati 18 Tahun Tragedi Semanggi, YLBHI Gelar Nonton BarengFoto: Haris Fadhil/detikcom

Widodo, ayah dari Sigit Prasetyo yang merupakan seorang mahasiswa korban tewas peristiwa Semanggi I, mengisahkan cita-cita mendiang anaknya untuk memberangkatkan haji orang tuanya. "Saya berharap pemerintah mau mengungkapkan kasus ini secara jelas dan tuntas," ujarnya.

Bona yang merupakan mantan anggota Front Aksi Mahasiswa untuk Reformasi dan Demokrasi simpul Atmajaya menyatakan film dokumenter yang dibuat oleh Ramdan dan kawan-kawannya sangat berguna bagi pendidikan rakyat banyak.

"Kalau sumber sejarah itu hanya satu pintu bisa bahaya kita, dan dulu kita juga sempat buat rekaman-rekaman ketika turun ke jalan harapannya bisa berguna juga itu," kata Bona.

Ia juga menyampaikan harapan adanya pengadilan HAM ad hoc yang mengejar pertanggungjawaban serta mengadili pemberi komando dari pihak berkuasa pada saat peristiwa itu terjadi.

Sumarsih, ibu dari Wawan mahasiswa korban tewas Semanggi I turut hadir sebagai peserta acara ini. Dia menyampaikan harapannya film dokumenter ini bisa jadi bukti awal adanya dugaan keterlibatan aktor dari pemerintah pada waktu itu.

"Saya menginginkan penyelesaian melalui pengadilan HAM ad hoc. Saya juga akan mencari dukungan dari berbagai pihak untuk penyelesaian peristiwa tersebut," ujar Sumarsih.

Tragedi Semanggi menunjuk kepada dua kejadian protes masyarakat terhadap pelaksanaan dan agenda Sidang Istimewa yang mengakibatkan tewasnya warga sipil.

Kejadian pertama dikenal dengan Tragedi Semanggi I terjadi pada 11-13 November 1998, masa pemerintah transisi Indonesia, yang menyebabkan tewasnya 17 warga sipil. Kejadian kedua dikenal dengan Tragedi Semanggi II terjadi pada 24 September 1999 yang menyebabkan tewasnya seorang mahasiswa dan sebelas orang lainnya di seluruh Jakarta serta menyebabkan 217 korban luka-luka. (dha/dha)


Berita Terkait