Menteri ESDM Ignasius Jonan mewanti-wanti jajarannya agar menjaga keberadaan perangkat pengukur dan pendeteksi gempa bumi serta pencatat aktivitas gunungapi di Indonesia. Pernyataan tersebut disampaikan Jonan di sela-sela menyambagi kantor Badan Geologi, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Jawa Barat, Jumat (11/11/2016).
"Harus dijaga. Carikan cara jaganya bagaimana," ucap Jonan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Terus terang yang paling singkat ialah kita meminta pemerintah daerah untuk sosialisasi secara detail kepada masyarakat sekitar. Ya agar masyarakat betul-betul merawat dan mengawasi, karena alat itu untuk keselamatan umat," ucap Ego.
Namun begitu, sambung Ego, segelintir orang tidak memahami fungsi dan teknis kerja seismograf sehingga melakukan vandalisme berupa perilaku merusak atau mencuri. Dalam sejumlah kasus memang alat tersebut sengaja dipereteli komponennya yang diduga dijual ke tempat rongsokan.
"Beberapa pihak menggangap alat itu bisa dimanfaatkan akinya, diambil besinya dan segala macam," tutur Ego.
Dia menegaskan, perangkat bertujuan memonitor pergerakan tanah dan gunung api merupakan alat untuk keselamatan publik. "Kalau alatnya hilang kan berbahaya sekali," kata Ego.
Kasus terbaru, pada September 2016 lalu, satu unit seismograf di Gunung Bromo, Jatim, milik Pos Pengamatan Gunung Api Bromo raib digondol pencuri. Pihak Badan Geologi sudah melaporkan kejadian tersebut kepada polisi setempat.
"Di Bromo itu ada empat alat. Diambil satu. Memang (hilang satu) tidak pengaruh, tapi mengurangi akurasi," ujar Ego.
Lebih lanjut Ego menuturkan, tercatat 74 gunungapi di Indonesia tak luput dalam pemantauan. Tiap gunung dipasang empat alat pendeteksi yang pemasangannya menyebar. (bbn/rvk)










































