Sempat Bebas, Ketua Jurusan Akhirnya Dipidana karena Ospek Telan Korban Jiwa

Andi Saputra - detikNews
Jumat, 11 Nov 2016 11:59 WIB
Ilustrasi (ari/detikcom)
Jakarta - Ospek mahasiswa baru Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang menelan korban jiwa. Fikri Dolasmantya Surya meninggal dunia usai mengikuti ospek jurusan pada 2013 lalu.

Kasus bermula saat Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Planologi mengadakan Ospek 2013. Ospek dilaksanakan di Desa Sitiarjo, Malang pada 9 Oktober 2013. Ospek itu dibawah arahan Ketua Jurusan Planologi, Ibnu Sasongko.

Memasuk hari terakhir, seluruh HMJ dibangunkan pada 12 Oktober pukul 02.00 WIB. Mahasiswa baru dibentak, disuruh berguling-guling, jalan jongkok dan sebagainya.

Pada pagi hari, kesehatan Fikri menurun. Panitia segera melarikan ke tenda kesehatan dan selanjutnya dibawa ke Puskesmas Sitiarja. Tapi malang, nyawa Fikri tak tertolong.

Atas kejadian itu, Ibnu lalu dimintai pertanggungjawaban hukum. Ia didudukkan di kursi pesakitan. Pada 7 Mei 2015, Pengadilan Negeri (PN) Kepanjen membebaskan Ibnu dari segala dakwaan. Atas vonis itu, jaksa kasasi dan dikabulkan.

"Menjatuhkan pidana selama 3 bulan. Pidana tersebut tidak usah dijalani kecuali jika di kemudian hari ada putusan hakim yang menentukan lain disebabkan karena terpidana melakukan tindak pidana sebelum masa percobaan selama 6 bulan berakhir," putus majelis sebagaimana dilansir website Mahkamah Agung (MA), Jumat (11/11/2016).

Majelis menyatakan dalam Ospek itu terdapat kegiatan perploncoan antara jalan jongkok, merangkak, push up dan berguling di pasir. Selain itu, sebelum makan mahasiswa baru disuruh menggosok-gosokkan tangannya di tanah tanpa dicuci lagi.

"Pada saat makan mahasiswa baru hanya disediakan air minum satu botol 1,5 liter untuk diminum 114 orang dan tidak diperkenankan minta air minum kepada pihak lain pada saat air minium 1,5 liter untuk 10 sampai dengan 15 orang," ucap majelis pada 16 Februari 2016 lalu.

Panitia penyelenggara juga terbukti dalam kegiatan itu tidak mempersiapkan sarana keamanan dan kesehatan yang memadai seperti tidak melakukan koordinasi dengan instansi kesehatan setempat, tidak menyediakan obat-obatan memadai dan mobil ambulans.

"Sehingga ketika korban mengalami tanda-tanda kekurangan cairan atau kekurangan oksigen tidak terdapat pertolongan medis yang memadai," ujar majelis yang diketuai Sri Murwahyuni dengan anggota Desnayeti dan Sumardijatmo.

"Terdakwa turur serta karena kelalaiannya menyebabkan orang lain meninggal dunia," ujar majelis dengan suara bulat. (asp/rvk)