Dalam nota atau MoU tersebut, Pemkab Purwakarta akan membatu yayasan tersebut dengan membangun rumah tinggal, pangan, areal sawah dan kebun seluas lima hektar, dan hewan ternak sebagai sarana dan prasarana penunjang perawatan yang berbasis alam tanpa obat.
"Nanti fasilitas itu peruntukannya bukan hanya untuk Purwakarta, tapi jadi fasilitas bersama bisa digunakan oleh siapa pun," jelas Dedi saat menandatangani MoU di Saung Katresna, Kabupaten Purwakarta, Kamis (10/11/2016).
Dedi mengungkapkan, alasan pihaknya bekerja sama dengan yayasan tersebut lantaran tidak menggunakan obat sebagai media penyembuh melainkan metode pendekatan alam sehingga pasien tidak lagi kambuh di kemudian hari.
Selain itu yayasan yang telah berdiri sejak tahun 2007 itu sudah banyak menyembuhkan orang tanpa menarik biaya pengobatan lantaran kebanyakan pasien adalah orang gila yang sering berkeliaran di jalan.
"Karena tidak menggunakan obat jadi nantinya tidak ketergantungan obat. Selain itu juga metode itu tidak membuat pasien jadi kambuhan," ungkapnya.
Di tempat yang sama Ketua Yayasan Mentari Hati, Dadang Heryadi mengatakan, dengan MoU tersebut pihaknya akan dengan leluasa melakukan pengobatan karena pasien akan fokus pada kegiatan sehingga tidak ada waktu menyendiri.
"Mudah-mudahan nanti lebih maksimal lagi. Saudara-saudara kita bisa cepat sembuh dan kembali ke rumah masing-masing," tuturnya.
Saat ini di yayasan miliknya terdapat 216 pasien yang kebanyakan wanita. Sehari-hari mereka menjalani terapi seperti bersih-bersih dan hiburan, sementara pasien pria diberdayakan dalam kegiatan membuat selokan atau dibawa dalam kegiatan-kegiatan sosial lain.
Selain menandatangani MoU, Pemkab Purwakarta pun menitipkan sebanyak delapan pasien yang berasal dari Desa Pasirmuljul, Kecamatan Sukatani. Namun dari delapan pasien tersebut dua diantaranya akan mendapatkan perawatan berbeda.
Dua orang tersebut adalah seorang pria dewasa yang mengidap gangguan kejiwaan karena ditinggal sang kekasih akan dirawat di Ponpres Cireog Purwakarta. Sementara seorang anak berusia sembilan tahun akan dibawa ke sebuah yayasan di Kota Bandung karena masuk kategori autis.
Sebelum dititipkan ke yayasan dan tempat lainnya, Bupati Dedi menjamu mereka makan di Saung Katresna dengan menu sate maranggi dan sop daging khas Purwakarta. Di sela-sela makan, Dedi sempat berinteraksi dengan para calon pasien.
"Mereka juga saudara kita. Jangan kucilkan mereka, muliakan mereka. Karena saudara-saudara kita yang seperti ini sebetulnya memerlukan interaksi agar cepat pulih kembali," tutup pria yang selalu mengenakan iket putih itu. (trw/trw)











































