"Mereka menyebut dirinya kumuh tapi menurut saya padat. Ini padat tapi relatif udaranya baik, sinar mataharinya baik. Mungkin masalah pengelolaan air, maksud saya residu sisa pakai ya," terang Anies usai blusukan di RW 06 Cipulir, Jakarta Selatan, Kamis (10/11/2016).
Mantan Menteri Pendidikan itu kemudian menjelaskan banyak pengelola Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) yang belum mengolah limbah mereka. Dia pun ingin mengajarkan cara mengolah limbah tempe itu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pelaku industri diakui Anies sudah mengelola limbah mereka karena tersedia lahan. Namun untuk daerah seperti yang ada di Cipulir memang terkendala lahan yang terbatas.
Dia kemudian menyebut pengelolaan air di rumahnya bisa diterapkan untuk lokasi itu. Anies mengungkapkan di rumahnya seluruh air diresapkan kembali ke tanah.
"Sentra-sentra industri bisa karena punya areal. Saya bikin di rumah enggak ada air yang dibuang ke saluran," kata dia.
Dia kemudian berbagi cara pengolahan air di rumahnya. Seluruh air pembuangan dari rumahnya dikelolanya di penampungan itu.
"Kita siapkan ada sumur lebarnya 2 meter panjang 5 meter, dalamnya 3 meter diisi batu, pasir sisa dari dapur masuk kesitu, disaring masuk ke bumi," urainya.
Dia membanggakan tidak ada air yang di rumahnya terbuang percuma. Selain untuk menyirami tanaman air itu diresapkan ke bumi.
"Saya pribadi bisa bilang tidak nyumbang limbah keluar. Air hujan juga tidak masuk keluar tapi dimasukkan ke bumi kita. Tentu ada areanya, taman, halamannya. Intinya makin banyak rumah mau melakukan itu," tambahnya.
"Intinya kita membuat limbah yang dibuang keluar itu air yang diresapkan bukan yang dialirkan," tutupnya. (ams/imk)










































