Meski elektabilitas turun, posisi Ahok-Djarot masih berada di posisi pertama. Sementara itu, elektabilitas kedua pasangan lainnya yakni Agus Yudhoyono-Sylviana Murni dan Anies Baswedan-Sandiaga Uno tercatat stagnan.
Agus-Sylviana berada di peringkat dua dengan 20,9 persen, sedangkan Anies-Sandiaga elektabilitasnya tercatat 20 persen. Sementara angka swing voters atau belum menentukan pilihan yakni 34,5 persen dan naik 6,3 persen jika dibanding pada Oktober 2016 yakni 28,2 persen.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Turunnya elektabilitas Ahok, dijelaskan Adjie disebabkan empat alasan yang turut disurvei selama 31 Oktober-5 November 2016.
Alasan pertama yakni soal pidato kontroversi surat Al Maidah ayat 51 yang disampaikan Ahok di Kepulauan Seribu.
Hasil survei mencatat 73,2 persen pidato Ahok tersebut sebagai sebuah kesalahan. Sementara 10,5 persen responden menyatakan pidato itu bukan kesalahan dan 16,2 persen lainnya tidak tahu atau tidak menjawab.
"Mereka yang menyatakan bahsa pernyataan Ahok ini sebuah kesalahan, merata di semua segmen masyarakat. Baik mereka yang laki-laki maupun perempuan, berpendidikan tinggi atau rendah, ekonomi mapan maupun wong cilik," ujar Adjie di kantor LSI, Jl Pemuda, Jakarta Timur, Kamis (10/11/2016).
Selain itu, hasil survei LSI terkait pidato kontroversi Ahok juga menyebut 65,7 persen responden mengatakan bahwa pidato Ahok adalah sebuah penistaan agama. Sebesar 13,5 persen lainnya menyatakan bahwa itu bukan kesalahan.
Penyebab lainnya yang dijabarkan oleh hasil survei LSI yakni terkait resistensi pemimpin beda agama yang semakin kuat di warga DKI. Pada November 2016 tercatat 63,4 persen warga DKI yang menolak dipimpin oleh gubernur non muslim. Angka itu meningkat 7,8 persen jika dibanding Oktober 2016 lalu yakni 55,6 persen.
Hasil survei LSI berdasarkan pengumpulan data mulai 31 Oktober-5 November 2016 juga menyebutkan, tingkat kesukaan warga DKI pada Ahok menurun pada November 2016 sebesar 48,30 persen. Pada Oktober 2016 lalu, tingkat kesukaan Ahok masih tercatat 58?2 persen.
"Tingkat kesukaan Ahok karena berbagai alasan juga menurun. Di survei November 2016, tingkat kesukaan Ahok sudah di bawah 50 persen," kata Adjie.
Alasan terakhir yang disampaikan oleh LSI terkait turunnya elektabilitas Ahok yakni terkait personalitas dan kebijakan, mulai dari pribadi yang dipersepsikan arogan, kebijakan penggusuran dan reklamasi serta persepsi Jakarta yang tidak akan stabil jika Ahok kembali memimpin. (nkn/imk)










































