"Kendala air kemarin 3 bulan dari kendala listrik, voltasenya kurang, penambahan daya sampai kabel harus benar-benar standar, karena kuncinya kabel arusnya tidak boleh kecil, karena ketika kabel kecil arusnya tidak sampai ke mesin," kata Serda Daryo yang ditemui saat mengecek bak penampung di Desa Klinting, Rabu (9/11/2016).
Maka dari itu, Serda Daryo bersama warga menambah daya listrik untuk dapat menggerakkan pompa menjadi 2.200 watt. "Warga yang punya inspirasi, saya hanya menjembatani untuk terealisasinya air. Yang jelas ini keinginan warga," ujar Daryo merendah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Air untuk minum seluruh desa mampu, cuma lingkungan ini mau benar-benar maju apa tidak. Kalau iya ya ayo bersemangat gotong royong, biar air tidak berebut lagi. Yang jelas orang sudah enak (menikmati air), air mau dibagi itu pasti akan merasa dirugikan, tapi sekarang Alhamdulillah sudah terwujud adanya penampungan air," ucapnya.
Setelah bak penampungan air jadi, dia juga berharap ketika apa yang selama ini dia bangun dari titik nol dapat dirasakan oleh masyarakat. Sebelum diserahkan ke pihak desa, dirinya ingin agar ke depan desa dapat membuat Peraturan Desa (Perdes) yang mengatur tentang tata kelola air seperti pemerataan air bagi warga desa agar nantinya tidak ada arogansi warga yang mampu dan warga yang sangat membutuhkan air bersih.
Foto: Arbi Anugrah/detikcom |
Salurkan Air Bersih ke Warga Desa, Serda Daryo Relakan Jual 15 Kambing
Selain memberikan idenya, Serda Daryo juga mengeluarkan dana pribadinya yang tidak sedikit agar warga Desa Klinting, Kecamatan Somagede, Banyumas, khususnya Dusun Jambul dapat teraliri air bersih.
Bahkan dari semua pengeluaran biaya untuk membangun sarana air bersih tersebut, Serda Daryo yang bertugas sebagai Babinsa di Koramil Somagede Kodim 0701 Banyumas secara pribadi sudah mengeluarkan dana hingga puluhan juta. Dia mengusahakan uang itu dari hasil meminjam di Koperasi, UPK, BKD dan menjual 15 ekor kambing serta 1 ekor sapi peliharaannya demi warganya dapat menikmati air bersih.
"Untuk jutanya (nominal uang) masa lalu ya masih mampu dijangkau, jual sapi sama kambing, juga ambil pinjeman di koperasi, ambil pinjeman dari UPK, BKD Alhamdulillah sudah selesai potongannya. Yang lama sudah sejarah, itu masa lampau, mungkin perjalanan saya harus begitu, harus berjuang ya itu modal saya untuk sejarah," kata Serda Daryo yang tidak ingin menyebut nominal uang yang sudah dia keluarkan secara pribadi usai mengecek bak penampungan air di Desa Klinting, Rabu (9/11/2016).
Padahal kambing dan sapi yang dia jual merupakan ternak yang dia tabung dari hasil gajinya selama dua tahun.
"Iya itu hasil nabung sapi sampai 2 tahun sama kambing menyisihkan dari gaji," jelas Serda Daryo yang matanya mulai berkaca-kaca seakan menahan air mata yang hendak jatuh.
Serda Daryo juga menghibahkan tanah warisannya untuk dijadikan gronteng atau bak penampungan air bersih dengan ukuran 4 Γ 6 Γ 2, 26 m agar dapat menampung air dengan kapasitas 84 kubik sehingga nantinya dapat melayani sekitar 300 KK (Kepala Keluarga).
"Iya itu tanah warisan, karena untuk menaikkan air dari sumber mata air (ke atas bukit Jambul sekitar 200 meter) pas di situ tanah keluarga. Mungkin sudah digariskan sama Gusti Allah," kata sang istri Serda Daryo, Yuliati (43).
Menurut Yuliati, jika dirinya kembali mengingat perjuangan sang suami saat mulai memulai idenya agar dapat mengairi air dari sumber mata air menuju wilayahnya sangat perih, bahkan sang suami jadi sering sakit-sakitan akibat telat makan.
"Awalnya perih, bapak juga sering sakit karena makannya tidak teratur padahal tenaganya wara wiri terus, mikirnya juga jalan terus solusinya gimana biar (air bersih) bisa tersalurkan ke warga-warga," jelas ibu tiga anak tersebut.
Selama berutang kesana sini, kebutuhan rumah tangga dan sekolah anak-anak diambil sebagian dari gaji sang suami yang sudah dipotong oleh utang. Sedangkan untuk kebutuhan makan sehari-hari kadang Yuli ambil sayuran dari kebun.
"Utang ke koperasi sekitar 1,5 tahun, untuk biaya sekolah ya dari gaji, katanya istri tidak boleh ngeluh gimana caranya untuk makan pun ambil dari kebun, ya bagaimana kan harus prihatin. Biaya kebutuhan rumah dan sekolah kami saling mendukung, perih kayak apapun harus bisa. Utang potong gaji karena utang pribadi, dibilang cukup tidak cukup ya harus cukup," ujar Yuli.
Saat ini hasil perjuangan suaminya sudah membuahkan hasil. Dirinya tidak lagi harus mengangsu (mengambil) air ke sumber mata air setiap harinya. Yuli yang bukan warga asli Desa Klinting awalnya sempat kebingungan, karena baru kali ini dirinya mengalami kesulitan mendapatkan air bersih untuk mandi.
"Kalau musim kemarau mandi 1 kali dan nyuci 2 hari sekali, untuk ngangsu kadang motor sampai rusak karena jalan naik turun. Alhamdulillah sekarang sudah ada air, dari desa pun direspons, awalnya ya gerak sendiri," jelasnya.
Di dusun tersebut merupakan daerah perbukitan yang secara turun-temurun mengalami kesulitan air bersih, apalagi di musim kemarau. Ada sekitar empat RT atau sekitar 220 KK di mana hampir setiap hari warganya hanya mandi satu kali sehari dan mencuci pakaian dua hari sekali karena untuk mendapatkan air mereka harus berjalan kaki memikul atau menggunakan sepeda motor sekitar empat kali untuk mengambil air di sumber mata air setempat.
Halaman 2 dari 3












































Foto: Arbi Anugrah/detikcom