"Pertama, Interpol kita harapkan dapat memberikan kontribusi dalam pembangunan arsitektur keamanan regional. Jadi Interpol merupakan bagian yang tak terpisahkan dari upaya kita untuk membangun arsitektur kawasan," kata Retno.
Retno menyampaikan ini usai acara penutupan Sidang Umum Interpol di Bali Nusa Dua Convention Center, Bali, Kamis (10/11/2016). Hadir dalam kesempatan itu, Kapolri Jenderal Tito Karnavian dan jajarannya.
Kedua, lanjutnya, tantangan yang semakin kompleks itu membutuhkan pendekatan yang sangat komprehensif. Oleh karena itu, kerjasama internasional sangat diperlukan dalam menghadapi tantangan itu.
"Karena kita yakin tidak ada satu pun negara yang mampu menangani tantangan-tantangan dunia yang kompleks ini sendirian. Kerjasama internasional diperlukan untuk hal-hal yang lebih strategis dan juga konkret," ujarnya.
Ketiga, katanya, Interpol diharapkan mampu menyesuaikan tantangan baru yang terkait dengan teknologi informasi. Yaitu mengenai bahaya dan tantangan untuk cyber crime.
"Dan oleh karena itu kita harapkan bahwa Interpol mampu meng-adjust tantangan yang terkait dengan masalah information technology," ujarnya.
Retno menyampaikan, salah satu hal yang dapat dikerjasamakan antar negara dalam hal ini adalah capacity building. Seperti yang disampaikan Wapres JK dalam pidato pembukaan, lanjut Retno, Indonesia memiliki satu center yang sangat baik dan diakui oleh dunia, yaitu di JCLEC di Semarang
"Dan saya tadi sampaikan kita telah melatih 20 ribu orang dari 70 negara dan ini merupakan satu kebanggaan bagi kita, satu kontribusi nyata bagi Indonesia untuk law enforcement officers di seluruh dunia," urainya.
Retno sebelumnya mengatakan kondisi dunia saat ini belum damai dan stabil. Dunia masih dihadapkan pada kejahatan transnasional, organized crime, terorisme dan lainnya.
"Interpol berupaya mempertahankan keamanan dunia. Pertama, kontribusi Interpol pada Arsitektur dunia. Polisi memegang peran penting. Kerjasama internasional berkorespondensi pada setiap kebutuhan negara," kata Retno.
Retno menyampaikan, ancaman kejahatan itu makin berbahaya. Terlebih, ISIS sudah jadi ancaman dengan menggunakan metode konvensional dan non konvensional.
"Teroris tidak beragama. Tidak ada negara yang bisa menghadapi musuh bersama ini sendiri," ujarnya. (idh/rvk)











































