"Mau kemana?" tanya Budi ke salah satu penumpang yang sedang menunggu KRL di Stasiun Serpong, Banten, Kamis (10/11/2016).
"Ke Tanah Abang Pak," jawab penumpang tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Nggak begitu sering Pak, tapi padat Pak. Jadi ini nunggu enggak padat dulu baru berangkat," jawab penumpang itu lagi.
Selanjutnya Budi Karya keliling lagi dan mencoba untuk beli tiket ke Stasiun Tanah Abang. Dia kemudian berjalan ke arah peron untuk menunggu kereta datang.
"Hari ini saya kemari karena ada yang komplain dan kita lihat apa yang terjadi. Kita mau lakukan improvement, karena kereta sudah jadi pilihan utama warga, dari kalangan atas hingga bawah," ucap Budi pada wartawan.
Selama perjalanan dengan KRL dari Palmerah ke Serpong ia duduk bersebelahan dengan Dirjen Perkeretaapian Prasetyo. Beberapa kali terlihat mereka berbincang bersama. Menurutnya waktu tempuh dari Serpong ke pusat kota dengan KRL yang hanya sekitar 30 menit menjadikan alat transportasi ini favorit masyarakat.
"Jadi kita mau cari solusinya, pertama kita mau memperbanyak kereta api. Kedua, kita pikirkan bagaimana saat keberangkatan ke sini lebih banyak atau menambah rangkaian. Tapi kan tidak bisa dilakukan kalau enggak lihat apa yang terjadi", ujarnya.
Ia juga mengatakan bahwa KRL menyelesaikan banyak hal. Satu sisi efisiensi, cepat, murah, dan membantu lalu lintas. Ia juga menyatakan fasilitas sudah baik.
"Sudah baik, bisa untuk komersial dan juga untuk sosialisasi," kata Budi. (rvk/rvk)











































