"Bisa lebih mesra ke Rusia. AS lebih dekat dengan Rusia, dalam hal itu malah bisa di-bully oleh Rusia, penasihat politik atau manajer kampanye sangat dekat dengan Putin. Ini membuat orang Amerika takut 'Putin ada di lingkaran dalam presiden kita'. Tetapi tahu begitu kenapa mereka pilih ya?" jelas Kepala Departemen Hubungan Internasional FISIP Universitas Indonesia Evi Fitriani.
(Baca juga: Putin Sebut Donald Trump Sosok Cemerlang, Puji Kebijakan Luar Negerinya)
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, Trump tak akan semudah itu mengambil keputusan yang agresif seperti perang. Perlu diingat, ada Kongres AS sebagai mekanisme check and balances.
"Bisa jadi Perang Dunia 3, tapi kan ada Kongres yang bisa membatalkan. AS punya sistem check and balances yang sangat kuat, presiden punya kekuatan sangat besar, namun kebijakan itu haruslah disetujui oleh Kongres," paparnya.
(Baca juga: Donald Trump Sebut Putin Pemimpin yang Jauh Lebih Baik dari Obama)
Namun, bagaimana pula bila Kongres juga dikuasai oleh Republik? Evi mengatakan tak semua Republikan juga mendukung Trump.
"Kalau Kongresnya mayoritas dari Republik, jangan salah, banyak kaum Republikan yang marah juga sama Trump karena menilai Trump sudah kelewatan. Sejelek-jeleknya Republik, mereka akan berpikir lebih dewasa kalau Trump sudah parah banget. Justru nanti Kongres yang dikuasai Republik malah membuat Trump lebih rasional," tuturnya.
Meski demikian, AS dinilai tak bisa sendiri dalam setiap pergerakannya. AS sedikit banyak akan melihat pada reaksi negara-negara sekutunya dalam membuat kebijakan luar negerinya.
"AS secara riil masih yang terkuat di dunia, tapi secara relatif kekuatannya menurun. Jadi dia tidak bisa sendiri, relatif tergantung pada sekutu, pada negara lain, menimbang dulu. Nggak bisa tiba-tiba jadi pemimpin perang, nanti jadi musuh bersama duluan," papar dia. (nwk/ita)











































