Kongres Demokrat Amankan Kabinet

Krisis Kabinet Belanda

Kongres Demokrat Amankan Kabinet

- detikNews
Senin, 04 Apr 2005 14:44 WIB
Den Haag - Kongres kaum demokrat memutuskan langkah pengamanan kabinet. Sikap ini diyakini paling menguntungkan bagi posisi partai.Demikian hasil kongres anggota partai Demokrat 66 (D66) yang digelar di Nederlands Congres Centrum (arena North Sea Jazz Festival), ruang Pangeran Willem Alexander, Den Haag, Sabtu (2/4/2005). Hasil tersebut menjadi antiklimaks dari krisis kabinet yang telah berlangsung hampir dua pekan, sekaligus mengindarkan Belanda menggelar pemilu ketiga kali dalam masa kurang dari 3 tahun. Krisis bermula ketika Menteri Pembaruan Kabinet merangkap Wakil Perdana Menteri Thom de Graaf memutuskan mundur dari kabinet (23/3/2004), setelah rencana pembaruannya kandas ditorpedo para senator oposisi dari Partai Buruh di Eerste Kamer (Kamar Pertama atau Majelis Tinggi, semacam DPD).Angin antiklimaks mulai terlihat ketika para sesepuh partai angkat bicara, menandingi suara kongres yang menghendaki agar partai menolak Kesepakatan Paskah. Sesepuh Jan Terlouw mengingatkan jika D66 menarik diri dari kabinet dan kabinet jatuh, maka yang akan diuntungkan adalah Partai Buruh. Menurut Terlouw, dengan meneruskan di kabinet dan membuktikan program D66, partai ini bisa meyakinkan pemilih dan berpeluang lebih baik di pemilu 2007.Sedangkan tokoh pendiri Hans van Mierlo mengajak kongres agar memberi kesempatan di sisa dua tahun pemerintahan. "Mari beri kesempatan pada kita sendiri dan mereka (mitra koalisi CDA dan VVD) selama dua tahun lagi. Jika kabinet jatuh dan digelar pemilu lagi itu kurang baik bagi kepentingan negara dan partai," kata Van Mierlo mengingatkan. Thom De Graaf, menteri D66 yang mundur, juga mendukung kabinet diteruskan. "D66 tidak cukup besar untuk berpeluang jika pemilu digelar lagi. Saya sendiri tidak menghendaki D66 keluar dari kabinet. Seandainya memang demikian, tentu saya sudah menyerukan untuk keluar kabinet sejak pekan lalu," demikian De Graaf.Hasil kongres Sabtu itu disambut gembira PM JP Balkenende. "Hasil itu menggembirakan, sebab kabinet dapat meneruskan agenda pembaruan yang sangat mendesak diperlukan," kata tokoh partai Christen-Democratisch Appel (CDA) itu, yang terus didera turbulensi selama memimpin kabinet.Kabinetnya yang pertama, Kabinet Balkenende I (koalisi CDA, VVD dan LPF hasil Pemilu 2002), hanya berusia 87 hari. Kabinet ini jatuh setelah partai LPF, peninggalan Pim Fortuyn, terus dilanda kericuhan internal. Selanjutnya pemilu kembali digelar pada 2003. CDA kembali menang dan memilih berkoalisi dengan VVD dan D66 dengan nama Kabinet Balkenende II. Jika kabinet ini jatuh juga, maka citra kepemimpinan dan kepercayaan terhadap Balkenende sebagai pemimpin akan kena dampaknya.Sementara itu poling biro Interview-NSS -metodologinya terpercaya dan menjadi rujukan- yang digelar Jumat (1/4/2005) menunjukkan, jika saat ini digelar pemilu, maka partai-partai oposisi akan memanen suara. Partai Buruh akan memperoleh 50 kursi atau 30 persen dari kursi di parlemen, Partai Sosialis (SP) 15 kursi, Groenlinks 9 kursi. Sebaliknya partai-partai pemerintah akan jeblok. CDA akan memperoleh 32 kursi, VVD 27 kursi dan D66 5 kursi. Padahal peta perolehan kursi pada Pemilu 2003 adalah: CDA (44), VVD (28), D66 (6), Partai Buruh (42), SP (9), Groenlinks (8). Partai lainnya LPF (8), Uni Kristen (3), dan SGP (2). (es/)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads