Kala Perempuan Jadi Komandan Burung Besi

Bartanius Dony A - detikNews
Selasa, 08 Nov 2016 19:28 WIB
Foto: Kapten Pilot Monika Anggreini (Foto: Bartanius Dony/detikcom)
Jakarta - Dunia dirgantara dinilai sebagai dunia yang maskulin. Namun, kini perempuan bisa menjelajah kemanapun yang mereka mau. Seperti Monika Anggreini (41), yang meniti profesi sebagai pilot hingga menjadi kapten pilot.

"Saya ingin menginspirasi banyak orang, wanita-wanita di generasi yang akan datang. Biar mereka lebih berani, lebih kuat, tidak pernah putus asa," ungkap Monika, yang sudah menjadi Kapten sejak 2005.

Hal itu diucapkannya saat diskusi dan peluncuran bukunya berjudul 'Burung Besi Monika' di AirAsia Cafe, Gedung Kantor AirAsia, Jl Marsekal Suryadarma Tangerang, Banten (8/11/2016).

(Baca juga: Perjalanan Pilot Cantik Kapten Monika Menggapai Cita Hingga Angkasa)

Tak mudah meniti profesi sebagai pilot apalagi menggapai predikat kapten. Monika yang awalnya menjadi arsitek ini didorong ayahandanya, Kolonel Bambang Wiratmo. Dia lantas masuk sekolah pilot di Juanda Flying School tahun 1996 dan melanjutkan sekolah pilotnya di Avindo Angkasa Pilot School tahun 1997.

"Zaman saya lulus tahun 96 itu lagi krismon. Semua penerbangan juga down. Lamaran saya submit ke semua penerbangan di Indonesia. Setiap 6 bulan saya refreshing (jam terbang) sekitar 5-10 jam," tuturnya.

Tak banyak rekan perempuan yang menempuh sekolah pilot pada angkatannya saat itu. Seingatnya, hanya ada seorang rekan perempuan yang menjadi sekolah pilot itu.

"Waktu sekolah ada juga yang perempuan, (namanya) Diana. Tapi dia 5 tahun terakhir ini baru terbang lagi. Kalau saya agak lama, saya harus banyak belajar ya," jelas dia.

Tak hanya pintar, Monika juga seorang pembelajar. Tak puas hanya sekolah pilot, Monika pun mengejar ilmu ekonomi di bangku kuliah hingga menjadi sarjana ekonomi Universitas Trisakti pada 2002 lalu.

(Baca juga: Kapten Monika, Pilot Cantik yang Merasa Lebih Hidup saat di Langit)

Hingga kini, Monika sudah memiliki 9.600 jam terbang, dan menjadi salah satu dari 2 kapten pilot perempuan di maskapai penerbangan AirAsia. AirAsia sendiri memiliki 10 pilot perempuan dari total 220-an pilot.

"Tantangan dan suka dukanya, jadi pilot wanita saya rasa sama dengan pilot pria juga. Pendidikannya sama. Dulu zaman saya bisa dihitung dengan jari ya pilot wanitanya. Sukanya saya bisa membawa pesawat baru," tutur Monika.

Sementara CEO AirAsia Indonesia Dendy Kurniawan mengatakan semakin hari semakin banyak perempuan yang menjadi pilot di tempatnya.

"Bertambah makin banyak, tentunya secara persentase memang belum sebanyak yang laki-laki sih sebenarnya, tetapi trennya tambah terus. Sekarang kita sudah ada 10 pilot, 2 kapten, 8 (First Officer/kopilot). Ya nanti kalau 8 bisa jadi captain semua ya, kalau di grup sendiri kita punya 42 pilot (perempuan)," paparnya.

Pihaknya tidak mentargetkan khusus agar perempuan menjadi pilot. Lingkungan AirAsia, imbuhnya, tidak bias gender. Jadi perempuan atau laki-laki yang mampu, dipersilakan menjadi pilot.

"Ya kita biarkan tumbuh natural aja ya, kita tidak ada perbedaan gender, tentunya kita support, kita sangat sangat senang sekali jika ada perempuan yang mau daftar pilot ya kita senang, cuma kita nggak punya target khusus ya, ya kita biarkan tumbuha naturallah," jelasnya.

Dari sisi operasional, pilot perempuan dan laki-laki sama saja. Namun diakuinya, pilot perempuan lebih rapi dan teliti.

"Dua-duanya top, mau laki-laki sama perempuan sama saja. Tentunya ada secara alamiah pilot perempuan lebih rapi, teliti. Tetapi mereka jadi pilot udah ada guideline-nya sudah ada SOP, baik cowok sama cewek tidak ada bedanya," tandas Dendy.

Sedangkan pakar penerbangan yang juga purnawirawan TNI AU Chappy Hakim sangat mengapresiasi Monika, apalagi pilot perempuan ini menulis buku. Menurut Chappy, seorang pilot yang membuat buku bisa dihitung dengan jari.

"Nenek moyangku adalah pelaut, tapi anak cucuku adalah seorang insan dirgantara," tutup Chappy. (nwk/erd)