"Jadi awalnya lebih banyak untuk konsultasi gitu, lebih masalah hukum. Supaya ada langkah preventif. Saya banyak tanya-tanya dengan beliau," ujar Handoko dalam perbincangan di kantornya, Jalan Sholeh Ali, Kota Tanggerang, Selasa (7/11/2016).
Kabar Antasari yang menjalani asimilasi di kantor notarisnya menyebar dengan cepat. Tidak hanya jadi buruan awak media, warga pun berbondong-bondong datang menemui untuk konsultasi hukum.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sesekali Handoko juga menanyakan kehidupan di Lapas Tangerang. Secara Antasari pernah merasakan hidup sebagai pejabat.
"Tenyata sama semua. Di dalam ada lemari kecil dan tempat tidur yang bercampur dengan napi lain. Saya juga sempat bertanya ke pengawalnya dan mereka bilang beliau hebat, di penjara mengikuti peraturan yang dibuat, tidak ada yang mau dilebih-lebihkan," paparnya.
![]() |
"Ya dia suka guyon, saking lama di dalam karena enggak ada kegiatan dia corat-coret kalender. Tapi yang setahu saya beliau selama di dalam menulis buku," bebernya.
Sebagai sahabat, Handoko kerap mengingatkan Antasari untuk tidak terlalu sering pikirkan perkaranya. Apa yang terjadi sudah menjadi takdir tuhan.
"Saya katakan memang semua sudah takdir, semua upaya hukum sudah ditempuh dan semua tertutup. Memang sudah suratan takdir begitu, kita hanya berdoa dan lebih sering sholat tajahud serta dzikir. Selama asimilasi yang sering mengobrol, hanya untuk mendengarkan unek unek beliau," pungkas teman kuliah S1 Antasari itu.
(edo/asp)












































