Di awal pemaparannya sebagai pembicara, Sylviana menceritakan pengalaman hidupnya yang memiliki seorang ayah berprofesi tentara, jenjang pendidikannya yang sampai di tingkat guru besar dan jabatannya sebagai pejabat eselon 4. Sylviana memotivasi agar para pekerja serikat bisa tahan banting saat bekerja di lapangan.
"Ketika menerima krtitikan, itu tidak ada yang konstruktif karena akan bikin kita baper, terus kerjanya tidak nyaman terus ingin melawan. Saya bersyukur kepada Allah mungkin dari 31 tahun saya jadi pelayan masyarakat, mengikuti 7 gubernur dan mendapat amanah 11 jabatan, saya bisa meski saya perempuan, relatif kalau perempuan berkarir itu dia dituntut melakukan kodratnya sebagai perempuan," kata Sylviana di Hotel Sannu, Pluit, Jakarta Utara (8/11/2016).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jadi kalau saya dibully saya sudah terbiasa 31 tahun seperti itu, ya saya jalan terus sesuai yang saya yakini," kata Sylviana.
Sylviana sendiri mengaku cukup senang melihat respons masyarakat yang sering membully-nya di media sosial. Menurutnya, masyarakat mem-bully karena tidak mengerti apa yang dihadapinya.
"Saya paling dibully paling senang memberi jawaban 'saya memaafkan anda karena anda tidak tahu', karena kalau tahu dia tidak mungkin membully saya," ucap Sylviana.
Selain itu, Sylviana mengingatkan agar para serikat pekerja bisa bekerja keras dengan hati. Dia menekankan untuk jangan bekerja keras tanpa henti tapi tidak tahu mana yang menjadi prioritas.
"Kalau serikat buruh dianggap tidak ada gunanya justru itu harus buat kita termotivasi," tegas Sylviana disambut tepuk tangan peserta. (nth/imk)











































