Laporan dari Washington DC

Fraksi PPP DPR Terbang ke AS Pantau Pertarungan Hillary vs Trump

Ahmad Toriq - detikNews
Selasa, 08 Nov 2016 10:21 WIB
Ketum PPP Romahurmuziy (Foto: Agung Pambudhy)
Washington DC - Sejumlah anggota Fraksi PPP (F-PPP) DPR melakukan kunjungan individu ke Amerika Serikat (AS). Tujuannya adalah memantau Pilpres AS.

Delegasi F-PPP yang terbang ke negeri Paman Sam adalah anggota Komisi III DPR yang juga Ketum PPP sekaligus ketua delegasi Muchammad Romahurmuziy, anggota Komisi XI DPR yang juga Waketum PPP Amir Uskara, anggota Komisi X DPR yang juga Wasekjen PPP Donny Ahmad Munir, anggota Badan Kerjasama Antar Parlemen (BKSAP) DPR yang juga Wasekjen PPP Syaifullah Tamliha, Ketua Komisi X DPR yang juga Waketum PPP Reni Marlinawati, serta anggota Komisi VIII yang juga Ketua DPP PPP Achmad Farial.

Perjalanan delegasi dimulai dari penerbangan selama sekitar 2 jam dari Jakarta pukul 19.00 WIB menuju Singapura untuk transit. Dari Singapura lalu terbang selama sekitar 13 jam menuju Frankfurt, Jerman, untuk transit kedua. Lalu dilanjutkan penerbangan selama 8 jam menuju bandara JFK, New York. Dari JFK, perjalanan menuju Washington DC ditempuh selama 5 jam menggunakan bus, dengan rute: New York - New Jersey - Delaware - Maryland - Washington DC.

"Kita di sini mau melihat Pilpres AS. Karena hubungan pasang surut AS-Indonesia tak terlepas dari proses politik yang terjadi. Amerika sebagai negera dengan perekonomian terbesar di dunia, mitra dagang penting setelah China, apapun dinamika politik AS akan sangat berpengaruh dengan dinamika politik di Indonesia," kata Romahurmuziy saat berbincang dengan detikcom di Washington DC, Senin (7/11/2016) waktu setempat.

Selasa 8 November besok pagi, atau malam waktu Indonesia, delegasi PPP akan memantau langsung proses pemungutan suara ditemani The International Foundation for Electoral Systems (IFES). Polling station atau tempat pemungutan suara yang dipantau yaitu di Maryland dan Virginia.

Rabu 9 November delegasi akan menggelar pertemuan dengan The National Democratic Institute (NDI) untuk mendalami tentang Partai Demokrat AS. Lalu, Kamis, 10 November, delegasi akan bertemu dengan International Republican Institute (IRI) untuk mendalami tentang Partai Republik AS.

"Program ini kita rancang dengan IFES, NDI, dan IRI sehingga kita mendapat perspektif yang lengkap dari lembaga pemantau pemilu, Partai Demokrat dan Partai Republik. Besok kita akan melihat efektivitas pemungutan suara di sini, lalu kita akan mendengar bagaimana parpol bekerja memenangkan kandidatnya," ulas Romi, sapaan akrab Romahurmuziy, soal agenda delegasi PPP di AS.

Ketum PPP Romahurmuziy (tengah, berjaket hitam) bersama rombongan delegasi di depan bus yang mengantar dari New York ke Washington DC. Foto: Ahmad Toriq/detikcom
Ketum PPP Romahurmuziy (tengah, berjaket hitam) bersama rombongan delegasi di depan bus yang mengantar dari New York ke Washington DC.


Dua kandidat capres AS yang bertarung adalah Donald Trump yang mewakili Partai Republik dan Hillary Clinton dari Partai Demokrat. Romi punya analisis sendiri soal pertarungan kedua capres.

"Trump dan Hillary dua figur yang sama-sama menarik. Polling keduanya bisa dikatakan ketat, khas AS. Hillary sudah mengikuti Pilpres AS sejak 2008, dia tangguh. Sementara Trump bisa dikatakan sosoknya kontroversial, dan sebenarnya tidak mewakili Republik style. Tinggal kita lihat swing state. Dari 51 negara bagian, 45 atau 46 negara bagian biasanya sudah bisa dipastikan kemenangan mana. Tinggal kita lihat petanya, biasanya ada 5 sampai 6 negara bagian yang jadi swing state," ulas Romi.

Lebih jauh soal isu di sekitaran Pilpres AS, menurut Romi ada dua isu utama yang jadi sorotan, yaitu kebijakan imigrasi dan soal pemberantasan terorisme. Trump lebih konservatif dan keras soal isu imigrasi dan pemberantasan terorisme. Sementara Hillary lebih progresif.

"Pilpres AS kini dibayangi isu soal kaum imigran, banyak konflik yang menjadikan Amerika surga imigran. Baru di Pilpres sekarang ini isu imigran diangkat secara luas. Masalah klasik AS lainnya adalah war against terror. Isu ini membelah AS jadi 2 kutub besar, kutub konservatif yang menuduh etnis tertentu, agama tertentu. Dan kutub progressive yang melihat isu terorisme sebagai fenomena komunatarian," ulas anggota Komisi III DPR ini.

Khusus soal kesetaraan gender di Pilpres AS, Romi berpendapat Indonesia lebih maju. "Bagi AS, baru pertama kali ini dalam sejarah ada capres perempuan dan itu merupakan satu kemajuan bagi negara yang sejak tahun 80-an sudah menyuarakan gender equality, tapi mereka baru bisa mencalonkan capres perempuan setelah 280 tahun lebih. Sementara kita sampai memiliki Presiden Megawati hanya butuh 56 tahun. Dari sisi kesetaraan gender Indonésia lebih maju," ujar Romi.

Voting Pilpres AS akan digelar Selasa, 8 November. Siapa yang akan memenangkan pertarungan, Trump atau Hillary? Ikuti terus update Pilpres AS hanya di detikcom!

(tor/imk)