Sri Paus di Mata Gus Dur

Sri Paus di Mata Gus Dur

- detikNews
Senin, 04 Apr 2005 13:11 WIB
Jakarta - Abdurrahman Wahid alias Gus Dur, pendiri The Wahid Institute, punya kenangan sendiri tentang Sri Paus Yohanes Paulus II yang wafat pada Minggu dinihari lalu.Berikut kenangan Gus Dur yang dikenal sebagai tokoh toleransi beragama terkemuka di dunia dalam tulisan bertajuk In Memoriam Sri Paus Yohanes Paulus II yang diterima redaksi detikcom, Senin (4/4/2005):Seperti Sri Paus Yohanes Paulus II yang sekian lama menjadi pemimpin rohani tertinggi umat Katolik seluruh dunia, tiap-tiap orang Paus memiliki watak sendiri-sendiri. Jika Paus Yohanes XXIII, terkenal sebagai pemimpin Katolik yang mendorong perubahan demi perubahan, seperti terlihat dalam Konsili Vatican II, maka Sri Paus Yohanes Paulus II justru mengaplikasikan rem agama sekuat-kuatnya agar tidak berjalan menyimpang dari ajaran formal Gereja tersebut.Tetapi hal itu tidak menjadikan Gereja seperti jaman sebelum Paus Yohanes XXIII, karena Gereja Katolik Roma tetap berada pada bidang aktivitas masyarakat dengan ensiklik Mater et Magistra sebagai kelanjutan dari ensiklik Paus Leo XIII berjudul Rerum Novarum yang membahas masalah aktivitas gerakan buruh.Sri Paus Yohanes Paulus II juga tidak mundur dari bidang tersebut, yang terjadi hanyalah terhentinya pembaharuan-pembaharuan dalam hubungan Gereja Katholik Roma dan gerakan-gerakan keagamaan yang lain.Ini terjadi mungkin karena Beliau mengkhawatirkan akibat-akibat yang dapat merubah seluruh doktrin Gereja tersebut, umpamanya saja, paham-paham yang disebarkan oleh Teologi Pembebasan (Liberation Theology), yang dirintis oleh Leonardo Boff di Amerika Latin. Ia takut, akibat-akibat dari paham itu akan merombak kehidupan Gereja Katolik Roma secara fundamental, sehingga di kemudian hari sulit dikembalikan.Sebagai seorang pemerhati perkembangan internal Gereja tersebut, penulis tentu saja mempunyai pendapat sendiri mengenai sikapnya tersebut. Tetapi penulis dapat mengerti perasaan dan jalan pikiran mendiang Sri Paus Yohanes Paulus II.Walaupun konservatisme yang diperlihatkan Beliau, tidak sedikitpun mengurangi gerak Gereja itu di bidang kemasyarakatan. Kombinasi dua hal itu -konservativisme dan bidang kemasyarakatan- sekaligus di satu masa, adalah sebuah keunikan yang jarang terjadi dalam sejarah manusia.Perlu diingat akan sikap Paus Yohanes Paulus II yang memberikan maaf kepada Mehmet Ali Agca seorang berkebangsaan Turki yang menembaknya, disamping sikap-sikapnya yang menentang perang, menunjukkan kepribadian Beliau yang sangat menarik.Di tengah-tengah berbagai bencana alam, seperti gempa bumi di Pulau Nias dan Pulau Simeuleu, sikap Paus Yohanes Paulus II itu menunjukkan sesuatu yang sangat menyegarkan dalam hubungan antar manusia. Melalui tulisan ini, penulis menyampaikan SELAMAT JALAN dan SELAMAT BERPISAH UNTUK SEMENTARA kepada tokoh kita ini. (nrl/)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads