Rizal: Hatta Bukan Titipan SBY

Jelang Kongres PAN

Rizal: Hatta Bukan Titipan SBY

- detikNews
Senin, 04 Apr 2005 12:52 WIB
Jakarta - Hatta Rajasa disebut-sebut sebagai kandidat ketua umum PAN titipan Presiden SBY (Susilo Bambang Yudhoyono). Namun, tim sukses Hatta, Rizal Djalil, membantah tudingan itu. Rizal juga membantah pernyataan Hatta saat bertemu Amien Rais. "Itu isu. Biasalah isu-isu seperti itu muncul menjelang kongres," kata Rizal Djalil saat dihubungi detikcom, Senin (4/4/2005). Saat itu, Rizal ditanya mengenai kabar bahwa Hatta mencalonkan diri menjadi ketua umum PAN karena didorong-dorong oleh Presiden SBY, agar menteri-menteri kabinet menguasai parpol. Isunya, Hatta pernah ketemu Amien di Yogya menjelang pendeklarasian kesiapannya menjadi ketua umum beberapa waktu lalu. Saat itu, Hatta menyampaikan kepada Amien bahwa dirinya maju menjadi calon ketua umum PAN hanya untuk menyenangkan SBY dan dia akan mundur dari pencalonan saat kongres berlangsung. Isu ini sudah jadi perbincangan luas di kalangan kader PAN. Rizal mengaku belum mengetahui isu itu. "Untuk apa mendengarkan isu-isu seperti itu. Yang saya tahu, Hatta mengatakan bahwa SBY tidak akan melakukan intervensi politik dan tidak akan mencampuri urusan PAN," kata Rizal. Pada kesempatan itu, Rizal juga menyampaikan bahwa desakan kepada Hatta agar mundur dari kabinet tidak berdasar sama sekali. "Dalam AD/ART tidak disebutkan larangan menteri mencalonkan diri jadi kRizal Djalil: Hatta Bukan Titipan SBY etua umum partai. Desakan itu hanya disampaikan segelintir orang dan itu saya sudah upaya kebencian," ungkapnya. Rizal juga menyatakan Hatta telah menantang kepada para kader PAN yang mendesak dirinya mundur. "Hatta menantang, kalau terpilih sebagai ketua umum PAN di dalam kongres, dia siap mundur dari kabinet, bila memang kongres menghendaki," ujarnya. Bila memang kongres tidak memutuskan Hatta harus mundur dari kabinet, Rizal optimistis Hatta masih bisa mengurus PAN. "Dia itu tamatan perminyakan ITB. Dia paham teknologi dan manajemen moderen. Dia juga dinilai sebagai menteri yang bernilai paling tinggi dalam 100 kabinet SBY oleh Indonesia bangkit. Jadi, saya kira tidak ada masalah dengan itu," jelasnya. (asy/)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads