Pimpin Rekonstruksi Perang Lawan Penjajah, Risma: Kita Harus Pantang Menyerah

Zainal Effendi - detikNews
Minggu, 06 Nov 2016 15:07 WIB
Risma menjadi pemimpin napak tilas 10 November (zainal/detikcom)
Surabaya - Wali Kota Surabaya Tri Risma berpesan pada generasi muda agar tidak pernah menyerah dan terus berjuang serta mempuyai semangat perjuangan yang sama dengan para pahlawan saat mempertahankan kemerdekaan di Kota Surabaya. Peristiwa itu juga dikenal dengan peristiwa 10 November dan dijadikan sebagai Hari Pahlawan.

Pesan itu disampaikan Risma saat menjadi inspektur upacara di depan Hotel Majapahit dalam acara Parade Surabaya Juang. Menurutnya, saat arek arek Suroboyo mempertahankan kemerdekaan pantang menyerah meski mengalami kendala alat dan sarana.

"Kita harus bisa buktikan bahwa kita adalah anak cucu dan cicitnya para pejuang. Kita harus punya semangat yang sama untuk mempertahankan kemerdekaan dengan bekerja keras dan pantang menyerah," kata Risma di lokasi, Minggu (6/11/2016).
Pimpin Rekonstruksi Perang Lawan Penjajah, Risma: Kita Harus Pantang MenyerahFoto: zainal

Wali Kota perempuan pertama di Surabaya ini mengatakan di era sekarang, warga Surabaya tidak akan mengangkat senjata atau melakukan perang gerilya seperti para pejuang di era kemerdekaan dulu. Tetapi semangat perjuangan yang diusung harus tetap sama.

"Konteks perjuangannya sama, yakni mempertahankan kemerdekaan dan menjadi pemenang di negara/kota nya sendiri, menjadi tuan dan nyonya sendiri," pungkas Risma.

Parade Surabaya Juang sendiri merupakan agenda tahunan yang diselenggarakan untuk menyemarakkan dan memperingati Hari Pahlawan 10 November. Berbeda dengan tahun lalu, kegiatan yang diikuti 6 ribu lebih para pecinta sejarah ini menggunakan jalur yang lebih panjang dimulai depan Monumen Tugu Pahlawan dan finis di depan Taman Bungkul.
Pimpin Rekonstruksi Perang Lawan Penjajah, Risma: Kita Harus Pantang MenyerahFoto: zainal

Parade Surabaya Juang juga disemarakkan dengan parade 10 unit panser, jeep dan truk rampasan perang. Ada sekitar 6000 orang dan juga 300 komunitas se-Indonesia yang terlibat. Mereka juga menampilkan beberapa atraksi teaterikal rekonstruksi pertempuran di beberapa titik yang dilalui seperti teatrikal pidato Bung Tomo dan perang Surabaya di depan Monumen Bambu Runcing dan penurunan bendera Jepang dan pengibaran bendera Merah Putih di SMAK St Louis Jalan Polisi Istimewa. (ze/asp)