Polri mengerahkan 18 ribu personel polisi untuk mengawal dan mengamankan jalannya unjuk rasa tersebut. Tidak hanya itu, Polri juga mengerahkan BKO Brimob dari beberapa Polda luar Jakarta untuk memback up pengamanan tersebut.
Selain 'unjuk' kekuatan, polisi bertekad selalu mengedepankan cara-cara persuasif dan humanis dalam mengamankan aksi unjuk rasa dari Gerakan Nasional Pendukung Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPF-MUI) ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berikut cara humanis polisi:
Imbauan di Medsos
|
Foto: Danu Damarjati/detikcom
|
Imbauan-imbauan itu disebarkan oleh sejumlah anggota polisi, termasuk Bidang Humas Polda Metro Jaya melalui situs jejaring sosial facebook.
Imbauan tersebut dibuat semenarik mungkin dengan menampilkan foto-foto polisi dari mulai Kapolri Jenderal Tito Karnavian, Kapolda Metro Jaya Irjen Pol M Iriawan sampai polwan.
Berbagai imbauan disampaikan dalam bentuk foto yang dibubuhi dengan berbagai pesan moral. Seperti berikut:
"Tidak ada tembak pendemo kami kawal dengan humanis," dengan menampilkan foto Irjen Iriawan bersama Pangdam Jaya Mayjen Teddy Lhaksmana saat berboncengan mengawal demo FPI beberapa waktu lalu.
Disampaikan juga "Dengan humanis, TNI Polri Mengawal Aspirasi Anda."
Tim 'Asmaul Husna'
|
Foto: Istimewa/Dok. Humas Polda Metro Jaya
|
Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Awi Setiyono menyebutkan, tim 'Asmaul Husna' ini disiapkan untuk menghadapi massa ketika massa mulai ricuh.
"Secara spesifik yang memiliki kemampuan itu (membacakan asmaul husna) adalah Brimob Polda Jabar, itu untuk antisipasi terkait dengan apabila nanti saat demo itu ada eskalasi naik, massa sudah mulai dorong-dorongan misanya, nanti kita akan imbangi dengan pembacaan asmaul husna dengan harapan bisa reda," jelas Awi kepada wartawan di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Rabu (2/11/2016).
Diharapkan, dengan strategi tersebut, massa akan mereda dan tidak melakukan tindakan anarkis. Polisi berkeyakinan, massa tidak akan melakukan perlawanan ketika polisi membacakan asmaul husna tersebut.
"Yang tadinya emosinya memuncak bisa kita reda dengan membaca asmaul husna. Kita juga hanya mengingatkan saja, polisi juga seiman," tutur Awi.
Negosiator Polwan Berjilbab
|
Foto: Dony/detikcom
|
"Ya mereka di depan. Kalau massa masih tenang, berhadapan sama Polwan dulu, iya berjilbab," ujar Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Awi Setiyono kepada wartawan di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Rabu (2/11/2016).
Awi mengatakan, pengerahan Polwan berjilbab ini merupakan salah satu tindakan humanis persuasif dalam upaya mengamankan demo. Polwan berjilbab merupakan tim negosiator yang akan melakukan negosiasi dengan massa ketika massa mulai ricuh.
Tidak hanya itu, Polwan berjilbab juga akan membagi-bagikan permen dan minuman kepada para peserta demo.
"Ya yang bisa kita bantu saja," ungkapnya.
Halaman 2 dari 4











































