Seribuan Orang Eksodus dari Nias per Harinya

Seribuan Orang Eksodus dari Nias per Harinya

- detikNews
Senin, 04 Apr 2005 01:12 WIB
Nias - Setiap hari rata-rata 800 hingga 1.000 orang eksodus dari Nias. Senin dinihari ini pun ratusan warga bermalam di pelabuhan untuk menunggu kapal.Kebanyakan dari warga beralasan tidak tidak ada lagi yang bisa dipertahankan di Nias. Mereka pun membawa serta keluarganya yang selamat dan barang seadanya untuk meninggalkan Nias.Selain itu mereka juga mengaku sangat kelaparan. Apalagi yang berada jauh dari pusat bantuan, seperti di Nias Selatan maupun pedalaman Kabupaten Nias. Sehingga mereka memutuskan meninggalkan kampung halaman.Yang parah, eksodus warga ada yang dipicu isu yang beredar liar yang menyebutkan sekitar tanggal 4-5 April 2005 akan terjadi gempa maha dahsyat, dan Nias akan musnah. Itu sebabnya diperkirakan hingga dua malam berikutnya akan menjadi pucak eksodus.Hingga pukul 01.00 WIB, Senin (4/4/2005) di Pelabuhan Gunung Sitoli tampak sekitar dua ratus orang tertidur kelelahan di antara timbunan barang bawaan karena menunggu kapal yang berangkat menuju Sibolga.Mereka tidak mendapat kapal sehingga bermalam di pelabuhan dengan berbekal uang seadanya. Meski ada yang menjajakan makanan, namun bagi mereka harganya selangit karena uangnya pas-pasan.Jalan Kaki Berhari-hariSetiap pagi pelabuhan yang berjarak sekitar 1 km dari Pendopo Kabupaten Nias itu dijejali warga yang ingin keluar dari Nias. Saking frustasinya, banyak warga yang berjalan kaki berhari-hari dari Kecamatan Teluk Dalam dan lainnya. Mereka berjalan kaki sambil menahan lapar karena tidak ada makanan dan transportasi.Seorang ibu berusia sekitar 40 tahun mengaku suaminya sudah berangkat duluan membawa anaknya yang pertama. Sang ibu akan menyusul dengan membawa 2 anaknya dan sekitar 15 item barang yang terbungkus dalam karung goni plastik.Seorang pria berusia sekitar 35 tahun bernama Wardiman Harefa menunggu kapal merapat pada Minggu sore. Dia menunggu saudara laki-lakinya dari Sibolga yang datang membawa sekardus mie instan dan beberapa barang tentengan.Tangisan pun pecah saat kedua pria bertubuh cukup kekar itu bertemu. Rupanya kakak tertuanya meninggal dunia akibat bencana gempa. Wardiman memiliki 3 anak, paling besar berusia 5 tahun. Rumahnya hancur akibat gempa.Dia berencana akan pergi dari Nias meski tidak percaya dengan isu gempa dahsyat. "Saya selalu jantungan setiap hari. Orang-orang selalu membicarakan isu. Tapi mau bagaimana lagi, istri saya dan anak-anak saya adalah harta bagi saya saat ini," ujar pedagang kerupuk jange dari Miga Gunung Sitoli ini, sekitar 3 km dari Posko Bencana Alam di jalan Soekarno, Nias.Wadirman akan berangkat ke Sibolga untuk satu dua bulan. "Saya akan kembali jika sudah cukup membawa bekal untuk membagun kembali rumah dan punya cadangan keuangan. Itu pun kalau Nias tidak tenggelam," katanya.Beberapa hari belakangan ini, banyak orang sibuk melakukan survei di pelabuhan. Ada 3 unit kapal tongkang maupun kapal motor milik pemerintah yang setiap harinya bolak-balik mengangkut bantuan dari Sibolga ke Gunung Sitoli. Jadi saat balik ke Sibolga dengan muatan kosong, warga diperbolehkan menumpang gratis.Hari Minggu kapal navigasi milik PT Pelabuhan Indonesia yang biasa berada di Sibolga kebetulan datang, juga kapal dari Arta Graha Group dengan kapasitas ratusan orang.Memang masih ada kapal feri reguler yang melayani rute Sibolga-Sitoli dengan kapasitas maksimun 400 orang. Namun 500-an orang berjubel di kapal tersebut dan penuh dengan muatan barang. (sss/)



Berita Terkait