Polisi Terus Geber Pengusutan Kasus Mafia Beras

Polisi Terus Geber Pengusutan Kasus Mafia Beras

Jabbar Ramdhani - detikNews
Rabu, 02 Nov 2016 15:37 WIB
Polisi Terus Geber Pengusutan Kasus Mafia Beras
Foto: Diskusi mafia beras
Jakarta - Mafia beras masih belum hilang di Indonesia. Terakhir, Bareskrim Polri mengungkap kasus beras oplosan di Pasar Induk Cipinang, Jakarta Timur.

Direktur Tindak Pidana Ekonomi Khusus Bareskrim Polri, Brigjen Pol Agung Setya mengatakan kasus yang terjadi Pasar Induk Cipinang adalah tindakan penyelewengan beras cadangan pemerintah. Beras tersebut adalah beras impor yang dikelola Bulog dengan dana APBN.

Menurutnya, beras itu dialokasikan untuk operasi pasar guna menstabilkan harga beras nasional sekaligus menjaga stok beraa dalam negeri. Kemudian terungkap terjadi penyelewengan dengan adanya perusahaan distributor yang tidak terdaftar sebagai penyalur beras cadangan tersebut.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kasus penyelewengan beras cadangan berawal dari kecurigaan mengenai data Bulog Divisi Regional Jakarta-Banten. Dari data, diketahui ada pengiriman 400 ton beras dari Bulog ke PT DSU. Padahal, perusahaan itu bukan distributor yang ditunjuk untuk menerima beras impor," kata Agung.

Hal itu dikatakannya pada acara Dialog Polri yang bertema "Menguak Mafia Beras Indonesia". Acara ini digelar di Harlow Brasserie, H Tower, Kuningan, Jakarta Selatan pada Rabu (2/11/2016).

Dari situ, penyidik Bareskrim kemudian melakukan penyelidikan. Kemudian, lanjut Agung, diketahui beras PT DSU mengalir ke gurang milik TI dan AS.

Selain itu, penyidik juga menyita ratusan ton beras yang telah dicampur di Pasar Induk Beras Cipinang. Polisi pun menemukan ratusan ton beras di lokasi tersebut.

"Ada sebanyak 152 ton beras subsidi Bulog, 10 ton beras curah merk Palm Mas dari Demak dan 10 ton beras yang sudah dicampur," tutur Agung.

Polisi juga melakukan penggerebekan di gudang Bulog yang ada di Jakarta Utara. Di sana, ditemukan beras oplosan antara beras impor Thailand dengan beras lokal Demak yang kemudian dijual sebagai beras premium.

"Kemudian 3 beras cadangan pemerintah itu dicampur dioplos 1 beras lokal. Lalu dibungkus lagi dengan merk lokal harga Rp 11 ribu padahal harganya Rp 7 ribu," ujarnya. (jbr/fjp)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads