"Saya akan membicarakan hal yang sama dengan kepala daerah lainnya. Bagaimana, harapan saya, nanti ketika saya kembali ke Bali akan ada taman reuse, ruang publik bersih, dan taman-taman botanik," kata Paul.
Ia menyampaikan hal ini dalam acara 'Mengagas Denpasar Menuju Kota Nol Sampah' di Denpasar, Bali, Rabu (2/11/2016). Paul telah menyampaikan idenya soal zero waste hero di Jakarta, Bandung dan Surabaya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Paul akan menyampaikan idenya tentang manajemen sampah yang lebih ramah lingkungan. Terutama, ia tak setuju industri pengolahan sampah dengan cara membakar adalah ide yang baik untuk Bali.
"Sampah adalah masalah yang sudah didesain karena berasal dari manusia, bukan alam," ucap Paul.
Konsep manajemen sampah yang akan dia kenalkan kepada Wali Kota Denpasar adalah ekonomi melingkar. Konsep ini dianggap relevan dengan Indonesia yang sebagian besar sampahnya adalah basah.
Paul menjelaskan konsep ini memiliki 9 poin, yakni source separation, door to door collection, composting, recycling, reuse and repair center, zero waste research, better industrial design, reducing throwaway product and packaging, dan fasilitas residual separation.
Titik berat konsep yang dibawa Paul pada sumber produksi sampah. Yakni, sampah sudah dipisahkan sejak awal dengan tanggung jawab masyarakat, Pemkot dan Pemprov untuk menangani residu sampah.
Konsep ini diyakini dapat dijalankan dalam waktu singkat di Bali. Konsep ini, menurut Paul, mampu mengurangi pengiriman sampah ke TPA hingga 80 persen.
"Tapi tantangan terbesarnya adalah political will. Buat masalah sampah ini penting dan sederhana, dan yang bisa membuatnya seperti itu hanya para politisi," ujar Paul.
Foto: Prins David Saut/detikcom |
"Masalah kebiasaan itu bisa diubah jika ada political will. Para politisi, mohon berikan perhatian yang lebih baik," tambahnya.
(bag/bag)












































Foto: Prins David Saut/detikcom