3 Poin Penting Pertemuan Jokowi dan Prabowo di Hambalang

Wisnu Prasetiyo Adi Putra - detikNews
Selasa, 01 Nov 2016 11:13 WIB
Foto: Twitter Pramono Anung @pramonoanung
Jakarta - Pertemuan Presiden Joko Widodo dan Ketum Partai Gerindra Prabowo Subianto bukan hanya tentang menunggang kuda dan makan nasi goreng. Ada beberapa hal yang dibicarakan saat Jokowi berbincang dengan Prabowo selama pertemuan 2 jam di Hambalang.

Wasekjen Partai Gerindra, Andre Rosiade, yang ikut hadir dalam pertemuan tersebut menggambarkan hangatnya perbincangan antara Jokowi dan Prabowo. Tak ada lagi aroma persaingan ataupun tensi tinggi yang sempat terasa saat Pilpres 2014 lalu.

"Suasana selama di dalam itu banyak ketawanya antara Pak Jokowi dan Pak Prabowo. Intinya suasana kekeluargaan, menyenangkan antara pertemuan Pak Jokowi dan Pak Prabowo," kata Andre saat berbincang lewat sambungan telepon, Selasa (1/11/2016).

Topik pembicaraan Prabowo dan Jokowi bervariasi. Dari soal semangat kenegarawanan, ketahanan ekonomi, hingga hal yang tengah menjadi perhatian publik akhir-akhir ini yakni aksi Bela Islam II 4 November.

"Yang pertama pertemuan itu dalam rangka menunjukan kepada masyarakat dan bangsa Indonesia tentang keteladanan dan kenegarawanan Pak Jokowi dan Pak Prabowo. Mereka rival tapi tetap bisa bersahabat, itu yang dibutuhkan bangsa Indonesia," ungkapnya.

Berikutnya, perbincangan Jokowi dan Prabowo mengarah ke proses pencarian solusi dari masalah yang tengah dihadapi Indonesia kini. Masalah peningkatan kualitas perekonomian dan penegakan hukum menjadi tema diskusi di antara keduanya.

"Berikutnya tentang pembicaraan mengenai permasalahan bangsa. Pak Jokowi meminta masukan darinya Pak Prabowo untuk infrastruktur dan perkembangan ekonomi. Pak Prabowo meminta Pak Jokowi untuk memanfaatkan sumber daya alam dan dikelola bangsa sendiri. Itu yang diinginkan oleh Pak Prabowo," paparnya.

"Pak Prabowo meminta hukum itu tidak tumpul ke atas tapi tajam ke bawah. Itu yang ditekankan, bahwa Pak Jokowi perlu menegakkan hukum secara adil dan jauh dari kriminalisasi," imbuhnya.

Persoalan rencana aksi demonstrasi besar-besaran untuk mendorong pengusutan kasus dugaan penistaan agama yang melibatkan calon gubernur DKI Jakarta Gubernur DKI Basuki T Purnama (Ahok) tak luput dari pembahasan. Keduanya sepakat mendorong seluruh elemen menjaga kondisi dan suasana aksi yang akan dihelat 4 November tersebut.

"Terakhir untuk menurunkan tensi yang makin memanas jelang tanggal 4 November. Pak Prabowo meminta untuk semuanya tetap tenang dan untuk para demonstran untuk menjaga ketertiban. Para aparat juga jangan melakukan hal represif. Untuk masyarakat bisa melakukan aksi ya damai," beber Andre.

"Kita menginginkan apapun demonstrasi menyampaikan pendapat itu tidak boleh anarkis, sangat tidak bermanfaat bagi bangsa ini kalau terjadi kerusuhan," imbuhnya.

Andre menekankan, bahwa pertemuan keduanya menunjukkan bahwa rivalitas di politik adalah hal wajar. Yang terpenting bagaimana menjadi sinergitas antara elite-elite politik yang ada untuk membangun bangsa. (wsn/imk)