4 Alasan Banding Vonis Jessica: Protes Kompetensi Hakim dan Ragukan CCTV

Ferdinan - detikNews
Senin, 31 Okt 2016 11:22 WIB
Foto: Agung Pambudhy
Jakarta - Tim pengacara Jessica Kumala Wongso mengajukan banding atas putusan 20 tahun penjara dalam kasus kematian Wayan Mirna Salihin. Tim pengacara yang dikomandoi Otto Hasibuan mempertanyakan putusan hakim terhadap kliennya.

Ada 4 alasan tim pengacara mengajukan banding. Pertama, hakim dianggap melebih kompetensi saat menentukan penyebab kematian Mirna pada 6 Januari 2016.

"Hakim tidak punya kompetensi untuk menentukan sebab matinya orang. Yang bisa menentukan sebab matinya orang itu hanya dokter patologi dan dokter patologi hanya bisa menentukan kematian orang yang mendadak hanya dengan autopsi," papar Otto saat dihubungi, Senin (31/10/2016).

Atas dasar itu, Otto mempertanyakan keyakinan majelis hakim yang menyatakan kematian Mirna karena sianida di gelas vietnamese iced coffee (VIC) yang diminum saat berada di Kafe Olivier, Grand Indonesia.

(Baca juga: Terbukti Bunuh Mirna, Jessica Kumala Wongso Divonis 20 Tahun Penjara)

"Hakim sudah menentukan sendiri sebab matinya Mirna tanpa merujuk kepada dokter, atau visum et repertum. Ini kesalahan fatal. Bagaimana seorang hakim menyatakan seseorang mati karena ini (sianida), ini bukan kompetensi dia," sambung dia.

Alasan kedua, majelis hakim sambung Otto mengesampingkan barang bukti 4 yang menyebutkan hasil pemeriksaan sianida dalam cairan lambung Mirna yang diambil 70 menit seusai korban meninggal, dinyatakan negatif.

"Kalau di lambung tidak ada sianida bagaimana dikatakan mati karena sianida. kalau dia bukan mati karena sianida berarti tidak ada pembunuhan," ujarnya.

Ketiga, pengacara juga mempertanyakan penggunaan rekaman kamera CCTV sebagai barang bukti yang dinyatakan sah dalam putusan yang dibacakan pada Kamis (27/10). Menurutnya, tidak ada satu saksi pun yang dihadirkan di persidangan untuk memastikan keaslian rekaman CCTV di kafe Olivier tersebut

"Hakim buat pertimbangan berdasarkan CCTV, padahal CCTV sama sekali tidak asli. Karena aslinya sudah dihapus, sedangkan yang ditayangkan di pengadilan tidak diketahui siapa yang mengambil dan dari mana apa itu lengkap atau tidak? direkayasa atau tidak?" imbuhnya.

Keempat, tim pengacara keberatan dengan asumsi majelis hakim soal penguasaan gelas VIC oleh Jessica yang lebih dulu berada di Olivier.

"Siapa yang bisa memastikan pada waktu gelas itu Mirna itu dihidangkan belum ada sianida di gelas? Nggak ada yang bisa pastikan, yang kuasai gelas lama itu barista, dia yang menentukan, kenapa justru Jessica?" tutur Otto.

Jessica dihukum 20 tahun penjara karena terbukti bersalah melakukan pembunuhan berencana terhadap Wayan Mirna Salihin. Jessica terbukti melakukan tindak pidana dalam Pasal 340 KUHP.

Motif pembunuhan berencana dilakukan karena sakit hati Jessica terhadap Mirna. Mirna pernah menasihati Jessica agar putus dari Patrick O'Connor. Puncak emosi Jessica terjadi saat bertemu Mirna yang ditemani suaminya Arief Soemarko di restoran kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara pada 8 Desember 2015.

Setelah pertemuan ini, Jessica mencoba mengajak bertemu dengan Mirna. Pertemuan akhirnya dilakukan di kafe Olivier, Grand Indonesia, Jakarta pada 6 Januari 2016. Saat itu Mirna tewas karena meminum es kopi vietnam yang berisi sianida. Majelis hakim menyatakan Jessica terbukti menaruh sianida tersebut.

(fdn/fjp)