Seorang wanita sempat diajaknya berbincang. Wanita bernama Teresia Olivier itu hendak kembali ke rumahnya di Pulau Leti, Maluku Barat Daya. Budi Karya menanyakan soal harga kapal tersebut.
"Harga tiket harganya Rp 30 ribu. Cuma mahalnya untuk makan dan minum. Kita harus beli sendiri. Sebotol minuman harganya Rp 20 ribu," kata Olivier di lokasi, Sabtu (29/10/2016).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, Olivier sempat mengeluhkan biaya tambahan yang sering diminta. Biasanya yang terkena sasaran ini ialah para pedagang. Terhadap hal itu pun, Budi mengatakan untuk menolak pungutan liar (pungli).
"Kalau ada orang minta-minta, jangan bolehin. Marahin saja. Sudah tidak boleh sekarang, ya," kata Budi.
Di sela waktu peninjauan tersebut, Budi sempat pula berbincang dengan seorang pria bernama Onesemos yang ternyata menjual madu. Onesemos mengaku madu yang dijualnya ialah madu asli hasil panennya di hutan. Sebotol madu yang dibawanya, dijual seharga Rp 100 ribu.
"Ini madu boleh saya beli? Sebotolnya Rp 100 ribu? Boleh kalau saya beli Rp 50 ribu?" kata Budi bercanda. Ia pun menyerahkan selembar uang pecahan Rp 100 ribu kepada Onesemos.
Secara keseluruhan, Budi mengaku senang dengan banyaknya orang yang menggunakan pelabuhan. Ia berjanji akan melakukan perbaikan jika ditemukan kekurangan dalam pelayanan di pelabuhan tersebut.
"Kita ingin NTT lebih maju. Maka kita lihat apakah pelabuhan ini sudah cukup. Kita lihat, penumpang tadi bukan orang NTT saja. Tapi dari Ambon juga ada," tutur Budi.
"Saya senang sekali, masyarakat bisa pakai kapal ini. Ini tujuan dari pemerintah wujudkan konektifitas lebih bagus. Nanti tim akan melihat. Kalau ada yang kurang, akan diperbaiki," tambahnya. (jbr/trw)











































