Seorang relawan dari Jakarta Pusat salah satunya. Dalam sesi pertanyaan di Rumah Djoeang, Minggu (29/10/2016), dia berharap setelah Anis-Sandi menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur nanti, Rumah Djoeang ini tak dibubarkan.
"Diganti namanya boleh, menjadi posko. Sebagai alarm kinerja Pak Gubernur. Posko ini menjadi kaki tangan Pak Anies sebagai gubernur. Posko ini menyalurkan aspirasi warga yang ingin berada di pemerintahan. Kami ingin tetap bersama Anies sampai pensiun," ujarnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Visi kita tertulis di situ, keterlibatan publik. Kami tidak ingin mengajak publik saat kampanye saja, tapi seterusnya karena apabila pemerintah transparan, ada yang mengawasi pemerintahan. Kerja samanya kami ingin tak berhenti hanya sampai 15 Februari," jawab Anies.
Pertanyaan lain datang dari seorang relawan dari Jakarta Selatan, mengenai tindakan konkret dalam pencegahan korupsi.
"Satu hal kalau saya melihat visi misi yang ditawarkan barangkali diturunkan tindakan konkret pencegahan korupsi. Dengan partisipasi masyarakat dengan mengawasi gubernur yang akan datang yang bekerja. Bukan mengawasi seperti idola yang membabi buta. Kami tahu Sandi-Anies adalah orang bersih dan jangan sampai ketika di dalam sistem jadi tercemar," pesan relawan tersebut.
Anies kemudian menjawab pertanyaan itu. Menurutnya menghilangkan korupsi di Jakarta tak hanya dengan mengobati gejalanya saja, namun yang terpenting adalah masalah utamanya.
Foto: Rini Friastuti/detikcom |
"Untuk perbaikan korupsi ada dua hal yaitu sistemik dan sistematik. Mulai dengan tak ada transaksi lagi dengan cash. Lalu kegiatan dilakukan dengan aktivitas elektronik. Lalu taat pada prinsip tata kelola pemerintahan yang benar. Kalau dapat dana CSR masukkan ke APBD. Kalau ke CSR langsung kita tidak tahu mana yang masuk pemerintah mana yang CSR. Kita akan mengubah laporan keuangan menjadi WTP (Wajar Tanpa Pengecualian). Perusahaan saja kalau tidak bisa WTP dicopot toh," jelas Anies diiringi tepuk tangan riuh para relawan.
Pertanyaan lain kemudian datang dari Subiyanto, relawan dari Kemayoran.
"Bersediakah anda mengembalikan taman Ismail marzuki sebagai pusat seniman di Jakarta? Kedua masalah pemberdayaan kelembagaan RT dan RW. Selama ini kelembagaan ini semakin lemah dan diperlemah. Tapi semoga ketika Anies menjadi gubernur, RT RW berjalan maksimal," harap Subiyanto.
"Begitu banyak tempat di Jakarta yang menjadi ruang ekspresi. Kampung dan jalan harus menjadi tempat berekspresi. Lapak PKL ingin ditata dan undang seniman. Jadikan PKL sebagai ruang ekspresi," jawab Anies.
Halaman 2 dari 2












































Foto: Rini Friastuti/detikcom