11 Tahun CT ARSA Foundation Perangi Kemiskinan dengan Pendidikan Berkualitas

11 Tahun CT ARSA Foundation Perangi Kemiskinan dengan Pendidikan Berkualitas

Elvan Dany Sutrisno - detikNews
Sabtu, 29 Okt 2016 08:38 WIB
11 Tahun CT ARSA Foundation Perangi Kemiskinan dengan Pendidikan Berkualitas
Chairul Tanjung dan istrinya, Anita Ratnasari Tanjung (Foto: Elvan Dany Sutrisno/detikcom)
Beijing - Pada 20 November mendatang CT ARSA Foundation genap berusia 11 tahun, selama itu pula organisasi 100% charity ini memerangi kemiskinan dengan pendidikan berkualitas. Seperti apa kisah perjalanan 11 tahun badan amal yang dibentuk Chairul Tanjung (CT) dan sang istrinya, Anita Ratnasari Tanjung?

CT dan Anita Ratnasari Tanjung membentuk CT ARSA Foundation dengan visi untuk memutus mata rantai kemiskinan melalui pendidikan yang berkualitas serta optimalisasi kesehatan bagi masyarakat Indonesia yang kurang mampu. Yayasan ini pertama kali memulai langkahnya dengan mendirikan Rumah Anak Madani di Deli Serdang untuk membantu anak-anak korban tsunami Aceh pada 2004. Rumah ini merupakan cikal bakal dari SMA Unggulan CT Foundation di Medan yang kemudian diresmikan pada 2010.

"Awalnya pada tahun 2004 terjadi tsunami di Aceh kita membawa kurang lebih hampir 400-500 anak dari Aceh berbagai usia ke Medan. Kenapa ke Medan? Supaya tidak trauma. Kita bawa ke rumah anak madani yang jadi tempat tinggal mereka. Tetapi sekolah itu di luar jadi kita antar mereka dengan bus. Itu tidak gampang prosesnya, karena mereka trauma dan kehilangan orang tua dan semuanya. Mereka kita berikan pendidikan berkualitas dan kita pakai psikolog untuk melepas trauma mereka. Sampai akhirnya tahun ini sudah hampir semuanya mengenyam pendidikan universitas. Jadi kita tetap bertanggung jawab sampai ke jenjang universitas," kata Ketua CT ARSA Foundation, Anita Ratnasari Tanjung, saat berbagi kisah 11 tahun perjalanan CT ARSA Foundation di Conrad Hotel, Beijing, China, Sabtu (29/10/2016).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pada tahun 2010 CT ARSA Foundation mulai mendirikan SMA Unggulan di Medan. Yang direkrut adalah anak-anak pintar dari keluarga kurang mampu. Ada beberapa tes khusus yang harus dilalui dan tentu saja harus berasal dari keluarga tidak mampu. "Kami jemput sendiri, kadang 10 jam, 12 jam, naik perahu karet, pokoknya seru lah. Jadi kalau mereka punya warung dalam arti memiliki kendaraan yang tidak sesuai dengan kriteria kita coret, karena haram hukumnya kalau mereka mampu," kata Anita.

11 Tahun CT ARSA Foundation Perangi Kemiskinan dengan Pendidikan BerkualitasFoto: Elvan Dany Sutrisno/detikcom


"Sekarang ini setiap tahunnya kita merekrut kurang lebih 100 siswa, jadi sekarang kita punya 1.000 anak di level universitas dan 95% lulusan sekolah CT ARSA Foundation ini masuk ke perguruan tinggi negeri, tidak hanya UI, ITB, UGM, rata-rata masuk ke universitas top di Indonesia," ujar Anita bangga.

CT ARSA Foundation juga punya program mobil sehat dan mobil pintar. Mobil sehat berisi dental unit bekerja sama dengan dokter gigi yang tergabung di PDGI dan rumah sakit yang mau bekerja sama. Dengan mobil sehat ini dokter gigi jalan ke kampung-kampung untuk memberikan layanan kesehatan bagi orang tidak mampu.

"Mencabut, menambal gigi dengan peralatan berkualitas. Protapnya tetap kita jaga jadi enggak sembarangan. Kadang kita kasih alat disposible yang langsung buang. Kita juga beri penyuluhan mengenai bagaimana kesehatan gigi dan lingkungan hidup. Kita targetkan 3.000 setiap bulan, kita sudah mendata daerah miskin di Jakarta kita juga muter sampai Bandung," ungkap Anita.

11 Tahun CT ARSA Foundation Perangi Kemiskinan dengan Pendidikan BerkualitasFoto: Elvan Dany Sutrisno/detikcom


Program berikutnya adalah Mobil Pintar yang bertujuan untuk membuat anak-anak Indonesia cinta akan membaca buku. Mobil Pintar menyelenggarakan pelatihan keterampilan praktis bagi masyarakat tidak mampu sebagai bekal bagi mereka untuk keluar dari lingkaran kemiskinan.

"Kita juga punya mobil pintar dengan buku-buku berkualitas. Kita tidak hanya mengundang anak-anak tapi juga memberikan pendidikan kepada orang tuanya, kita latih bagaimana membuat tas, cara memasak sampai akhirnya bisa berjualan. Jadi selain ibu-ibunya dengerin, anak pemulung juga ikut belajar," katanya.

11 Tahun CT ARSA Foundation Perangi Kemiskinan dengan Pendidikan BerkualitasFoto: Elvan Dany Sutrisno/detikcom


Bersama dengan ulang tahun ke-11 CT ARSA Foundation juga akan meluncurkan Mobil Iqro. Inspirasinya datang ketika Anita Tanjung mengunjungi pemukiman pemulung namun mereka tidak menjalankan salat saat mendengarkan adzan. "Jadi nanti kita akan mengajak orang-orang untuk salat bersama dan setelah itu kita ajarkan iqro dan Alquran. Kita akan launching tanggal 20 bulan depan," katanya.

Pendidikan karakter juga jadi perhatian utama CT ARSA Foundation. Anita Tanjung juga membawahi 20 PAUD dan ke depan akan mendirikan PAUD di seluruh Indonesia. "Jadi saya ingin ada sekolah PAUD di seluruh Indonesia karena saya lihat golden age ini sangat penting dan kita kasih pendidikan karakter yang sangat baik dan kita bekerja sama dengan Ibu Sofyan Djalil, IHF, pendidikan karakter budi pekerti kita tanamkan ke anak-anak," katanya.

11 Tahun CT ARSA Foundation Perangi Kemiskinan dengan Pendidikan BerkualitasFoto: Elvan Dany Sutrisno/detikcom


Untuk pengembangan ke depan, CT ARSA Foundation akan mengarah ke remote area. Salah satu yang akan didatangi adalah NTT. Di mana masih banyak anak sekolah tidak memakai sepatu, masyarakat minum air yang kurang bersih. "Kita akan mendirikan sekolah di sana, tapi sebelumnya kita beri pendidikan berkualitas dalam arti minum air bersih yang matang, kita beri pengetahuan bagaimana menyikat gigi bagaimana pentingnya menjaga rongga mulut dan gigi dan sebagainya," ungkapnya.

Dan pada tanggal 20 November nanti juga akan diluncurkan buku mengenai pentingnya menjaga kesehatan gigi dan mulut. Buku ini tidak djual dan akan dibagikan gratis kepada seluruh guru PAUD di Indoensia. "Supaya mereka sampaikan ke anak didik mereka. Selain itu saya juga bekerja sama dengan pengrajin salah satunya di Tasikmalaya, mengembangkan industri kreatif. Dulu itu daerah mati tapi sekarang sudah hidup, kita beli ribuan tas secara langsung lalu kita jual ke hotel-hotel. Seratus persen provit buat charity, jadi untung buat pengrajinnya dan untuk kita buat charity," katanya.

CT ARSA Foundation menjalin kemitraan dengan Yayasan Mitra Netra untuk meningkatkan kualitas dan pertisipasi tuna netra di bidang pendidikan dan pekerjaan sehingga tuna netra dapat hidup mandiri, cerdas dan bermakna di tengah masyarakat.

"Saya ketua pembina yayasan Mitra Netra dan sekarang saya mengkampanyekan tuna netra harus mendapatkan pendidikan berkualitas sama dengan orang normal. Kita memberikan buku braile maupun audio visual ke anak yang membutuhkan. Selain itu kita berikan pendampingan, kita ajari mereka supaya confident masuk ke regular school . Kita akan buatkan buku-buku populer, formatnya bisa dikirim ke saya nanti saya akan olah jadi buku braile, audiovisual dan mereka juga bisa menikmati melalui smartphone mereka. Kemarin kita kampanye di Jabar dengan Pak Ridwan Kamil, di Bogor dan tanggal 20 November nanti di Makassar," papar Anita.

Nah memasuki usia ke 11 tahum CT Arsa Foundation akan membuka diri bagi pihak-pihak yang ingin bersama-sama membantu orang yang membutuhkan. CT Arsa Foundation terbuka dengan bantuan pihak lain maupun volunteer.

11 Tahun CT ARSA Foundation Perangi Kemiskinan dengan Pendidikan BerkualitasFoto: Elvan Dany Sutrisno/detikcom


"Kita sudah punya sistem yang transparan dan diaudit. Begitu dapat langsung kita salurkan jadi terpercaya. Yang mau jadi volunteer silakan bergabung dengan kita. Intinya anak muda mau berbagi, jadi anak muda sekarang enggak keren kalau enggak punya hati dan enggak mau berbagi," kata Anita sembari tersenyum.

"Jadi kita punya wadah CT ARSA Foundation, CT itu Chairul Tanjung, ARSA itu Anita Ratnasari. Kenapa ARSA? Karena dalam bahasa sansekerta artinya happiness, thats mean kita berbagi kebahagiaan kepada orang yang membutuhkan. Intinya memutus mata rantai kemiskinan dengan pendidikan berkualitas. Kita ciptakan agen-agen perubahan untuk anak-anak Indonesia sehingga mereka menjadi anak-anak yang bermanfaat dan mereka dapat memutus mata rantai kemiskinan di keluarga mereka, lingkungan dan masyarakat. Jadi kita bisa memutus mata rantai kemiskinan," pungkasnya. (van/dhn)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads