DetikNews
Jumat 28 Oktober 2016, 21:21 WIB

Kunjungi Peking University, CT Bicara Masa Depan Kerjasama China-Indonesia

Elvan Dany Sutrisno - detikNews
Kunjungi Peking University, CT Bicara Masa Depan Kerjasama China-Indonesia Chairul Tanjung (Foto: Elvan Dany Sutrisno/Detikcom)
Beijing - Di tengah kunjungan ke China, Pimpinan CT Corpora Chairul Tanjung mendatangi Peking University di Beijing. Chairul Tanjung memberikan 'kuliah singkat' kepada ratusan mahasiswa yang menyambutnya di auditorium universitas tertua di China itu.

Begitu tiba di Peking University yang terletak di pinggiran Barat Beijing, CT langsung disambut oleh Vice President of Peking University Dr Li Yansong dan para petinggi Peking University. CT yang datang didampingi istri tercinta Anita Ratnasari Tanjung, putranya Rachmat Dwiputra Tanjung, dan sejumlah rombongan CT Corp, disambut dalam courtesy meeting yang sangat hangat. Kedua pihak membicarakan tentang potensi pertukaran pelajar Indonesia dan China.

Selama ini Peking University bekerjasama dengan Universitas Indonesia. Namun kerjasama yang dibangun dirasa masih kurang. CT pun akan membantu berkomunikasi langsung dengan Rektor Universitas Indonesia saat ini. "Akan saya sampaikan agar kerjasama antara dua universitas lebih baik lagi," kata CT sembari menuturkan di Indonesia banyak beasiswa untuk pelajar yang ingin belajar di sejumlah universitas ternama di Amerika dan Eropa.

Kunjungi Peking University, CT Bicara Masa Depan Kerjasama China-IndonesiaFoto: Elvan Dany Sutrisno/Detikcom
Di akhir pertemuan itu, CT memberikan kenang-kenangan berupa miniatur wayang dari bahan perak. Ia juga memberikan buku 'Chairul Tanjung Si Anak Singkong' dalam bahasa mandarin yang diluncurkan hari ini.

CT kemudian didampingi Li Yansong berjalan kaki menuju auditorium. Begitu memasuki auditorium Universitas Peking, CT disambut tepuk tangah lebih dari dua ratus mahasiswa yang hadir dan siap mendengarkan paparannya. Lebih dari 50 mahasiswa di antaranya berasal dari Indonesia. Mereka tergabung dalam Perhimpunan Pelajar Indonesia (Tiongkok).

CT lantas mempresentasikan The New Era of Asia in a Changing World: The Future of China-Indonesia Relationship. CT mengawali paparan dengan sejarah pertumbuhan ekonomi di masa lalu, ia kemudian masuk kepada analisa tentang China, India, dan Indonesia yang bisa jadi lokomotif ekonomi masa depan.

Paparannya kemudian menyinggung ilmu pengetahuan dan teknologi yang mengubah wajah dunia. Dimulai dari revolusi industri 1.0 (mesin uap, kereta), dilanjutkan revolusi industri 2.0 (telepon dan elektronik), memasuki revolusi industri 3.0 (pesawat terbang, komputer dan ponsel), dan revolusi 4.0 yang dimulai tahun 2000 dan masih terus berkembang sampai hari ini yakni internet of things.

Kunjungi Peking University, CT Bicara Masa Depan Kerjasama China-IndonesiaFoto: Elvan Dany Sutrisno/Detikcom
CT lantas memaparkan Asia berada di tengah-tengah ketidakpastian global yang dipengaruhi oleh politik, geopolitik, ekonomi, dan perkembangan teknologi. Ia memaparkan contoh yang menyebabkan ketidakpastian global dari segi politik dan geopolitik yakni Kontroversi Donald Trump, Brexit di Inggris, upaya kudeta di Turki, dugaan skandal 1MDB di Malaysia, ancaman ISIS, kekacauan politik di Venezuela, dan lainnya.

Kemudian masuklah dalam pembahasan mengenai revolusi 4.0 yakni internet of things. Topik ini cukup menarik bagi mahasiswa yang hadir. Mereka berulangkali tertawa sampai bertepuk tangan saat CT memaparkan soal kemajuan teknologi yang luar biasa berkembang saat ini. CT mulai memaparkan mengenai internet of things yang sudah mulai diterapkan seperti perusahaan 'taksi' yang bahkan tak punya kantor dan armada seperti Uber. Ia kemudian menyinggung autonomous robot, big data, cloud, 3D printing, augmented reality sampai artificial intelligence.

"Autonomous robot, di masa depan bisa saja orang Jepang menikah dengan robot. Tidak menuntut apapun, tas Chanel dan lain-lain, sangat smart, dan anda bisa gonta-ganti tubuh dan wajah dengan mudah. Dan itu yang akan terjadi," kata CT disambut tawa seisi ruangan, beberapa mahasiswa tepuk tangan mendengar presentasi CT yang mengalir dan enak disimak itu.

CT kemudian memberikan pesan kepada para mahasiswa. Di masa lalu manusia harus produktif dan efisien untuk memenangkan persaingan. Namun hari ini dua hal itu tidak cukup, harus ditunjang dengan inovasi, kreativitas, dan enterpreneurship yang tentu saja membutuhkan sumber daya manusia yang lebih terampil.

Kunjungi Peking University, CT Bicara Masa Depan Kerjasama China-IndonesiaFoto: Elvan Dany Sutrisno/detikcom
Selanjutnya CT memaparkan betapa besarnya Indonesia lengkap dengan peta Indonesia. CT mengungkap Indoneisa memiliki 17.500 pulau. Dan hanya 8.000 pulau yang sudah diberi nama. "Jika Anda berkunjung ke Indonesia dan menemukan pulau, Anda bisa namai pulau itu sesuka Anda, bahkan dengan nama Anda sendiri," canda CT disambut tawa ratusan mahasiswa yang hadir.

Ia kemudian mengungkap Indonesia adalah negala kepulauan terluas di dunia. Indonesia juga memiliki 91 juta hektar hutan, 95.000 km garis pantai, juga 5,8 km per segi wilayah laut.

"Terbentang sepanjang 5.120 km dari Samudera Hindia menuju Samudera Pasifik. Jika Anda terbang dari ujung barat menuju ujung timur, sekitar 6 jam ditempuh dengan jet dengan kecepatan penuh," paparnya.

Bahasan memasuki Indonesia yang diibaratkan sebagai gajahnya ASEAN dengan jumlah penduduk saat ini sekitar 258 juta orang. GDP Indonesia tertinggi di ASEAN yakni USD 862 miliar sebagai kekuatan terbesar di kawasan. Dengan pertumbuhan GDP 5% pada tahun 2016 dan Indonesia adalah pasar besar dengan 45 juta warga termasuk 'consuming class' dan bahkan bisa jadi tiga kali lipat 20 tahun ke depan. Indonesia juga susah siap untuk akselerasi pertubuhan ekonomi yang lebih tinggi lagi.

Apalagi Indonesia punya bonus demografi, yang mana ada 70% populasi produktif yang dapat mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dalam dekade ke depan. Konsumsi domestik saat ini memiliki kontribusi terbesar dalam peningkatan GDP. CT kemudian mulai membandingkan situasi China dan Indonesia saat ini. Perbedaan paling mencoloknya adalah di GDP China mayoritas berasal dari investasi (47%), sementara di Indonesia didominasi konsumsi (56%).

Dijelaskan CT, China memiliki kesempatan besar untuk mengakselerasi pertumbuhan ekonominya dengan meningkatkan belanja konsumen. China juga menjadi mitra dagang yang penting dan saat ini menjadi mitra investasi penting untuk Indonesia.

Kunjungi Peking University, CT Bicara Masa Depan Kerjasama China-IndonesiaFoto: Elvan Dany Sutrisno/detikcom
China sampai saat ini banyak berinvestasi di Indonesia di industri manufaktur dan sektor hulu. CT sendiri berharap China tidak hanya bermain di sektor hulu dengan impor bahan baku dari Indonesia, namun juga membangun pabrik pengolahan di Indonesia untuk menambahkan added value, sehingga bisa membuka lapangan kerja di Indonesia.

CT lantas mengungkap lima kunci investasi di Indonesia saat ini. Yakni sektor konsumer, sumber daya alam, e-commerce, industri kreatif dan pariwisata, dan infrastruktur. Ia memaparkan ada peluang 1 triliun USD di sektor konsumer, melimpahnya sumber daya alam yang bisa diperbarui dan tak bisa diperbarui, pembangunan infrastruktur yang saat ini sangat masif (meliputi pembangkit listrik 35.000 MW, tambahan 1.000 km jalan tol, tambahan 3.258 km rel kereta api, 15 bandara baru, dan 24 pelabuhan baru), dan perkembangan yang luar biasa cepat di dunia teknologi informasi dan bisnis berbasis mobile.

CT kemudian menuturkan bahkan di dunia bisnis saat ini, the winner takes all. Dia mencontohkan sejumlah perusahaan besar seperti Yahoo saja kini terancam karena dominasi Google yang jadi perusahaan terbesar saat ini di bidang search engine, email, dan lainnya. Ia juga mencontohkan di China banyak perusahaan raksasa berbasis teknologi informasi, salah satunya adalah e-commerce Alibaba. Ia menjelaskan di Indonesia saat ini tidak ada e-commerce raksasa yang mendominasi, dan itu jadi peluang buat investor dari manapun.

"Asia akan kembali mengontrol ekonomi di seluruh dunia," ujar CT menutup presentasinya.

Kunjungi Peking University, CT Bicara Masa Depan Kerjasama China-IndonesiaFoto: Elvan Dany Sutrisno/detikcom

(van/rna)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed