Sidang Kongres GP Ansor Ricuh
Minggu, 03 Apr 2005 12:42 WIB
Jakarta - Persidangan pembahasan tentang mekanisme pemilihan ketua umum dalam kongres GP Ansor berlangsung ricuh. Sejumlah utusan dari kedua kubu, kubu Saifullah Yusuf dan kubu Arvin Hakim Toha, nyaris duel. Beruntung, Satgas Banser (Barisan Sergabuna) melerai mereka. Kericuhan ini terjadi sekitar pukul 11.30 WIB, Minggu (3/4/2005). Sidang pembahasan tata cara pemilihan ketua umum ini berlangsung di aula utama Asrama Haji, Pondok Gede, Jakarta Timur. Sidang dipimpin oleh Umar Syah dari Pimpinan Pusat GP Ansor yang sekaligus ketua panitia kongres. Kekisruhan diawal saat sidang membahas pasal 4 tentang mekanisme pemilihan ketua umum. Dalam pasal 4 b dalam draf disebutkan bahwa pemilihan ketua umum bisa dilakukan secara aklamasi, bila hanya terdapat satu calon ketua umum. Saat pasal itu dibahas, utusan dari Ansor Gorontalo meminta agar pemilihan ketua umum segera dilakukan secara aklamasi saja. Mereka beralasan bahwa semua wilayah telah menerima laporan pertanggungjawaban (LPJ) Saifullah Yusuf. Karena itu, tidak ada cara lain, selain menyepakati ketua umum PP GP Ansor 2005-2010 secara aklamasi. Pendapat utusan Gorontalo ini membuat kubu Arvin Toha tersinggung. Usulan ini dinilai sebagai upaya untuk melempangkan jalan Saifullah Yusuf untuk mempertahankan singgasananya. Apalagi, sebelumnya sudah beredar kabar bahwa memang ada upaya tertentu untuk melempangkan jalan Saifullah Yusuf sebagai ketua umum GP Ansor lagi dengan mempermainkan draf mekanisme pemilihan ketua umum itu. Akhirnya, para peserta yang diduga pendukung Arvin Hakim Toha, mencoba merangsek maju ke meja pimpinan sidang. Mereka memprotes pimpinan sidang yang dinilai lebih condong ke kubu Saifullah Yusuf. Kemarahan jelas tampak di wajah-wajah mereka. Namun, sebelum sampai di meja sidang, satgas Banser menahan laju mereka. Aksi maju ke meja pimpinan sidang ini membuat kubu Saifullah Yusuf juga panas. Mereka juga bergerak maju dengan wajah-wajah emosi. Berhasil, Satgas Banser menghadang mereka, sehingga peserta sidang kedua kubu ini tidak bertemu. Suasana sidang tambah panas. Pimpinan sidang hanya bisa mengetukkan palu berkali-kali untuk meminta peserta sidang tenang dan tidak emosi. Gema salawat pun akhirnya dikumandangkan untuk mendinginkan sidang. Akhirnya, dengan kumandangan salawat, situasi sidang bisa terkendali. Peserta sidang duduk kembali ke tempat semula. Sidang kemudian dilanjutkan kembali dengan pembahasan hal yang sama. Seharusnya, sidang pembahasan mekanisme pemilihan ketua umum baru akan akan digelar sore hari. Seharusnya agenda kongres pagi hingga siang hari adalah pengarahan dari sejumlah menteri kabinet Indonesia Bersatu. Direncanakan, akan hadir Menko Kesra Alwi Shihab dan Menakertrans Fahmi Idris. Namun, entah mengapa kedua menteri tidak hadir. Karena itu, agenda muktamar pun diubah dan diajukan.
(asy/)











































