"Walaupun saya begini, tetapi ada lagi yang lebih susah dari saya. Insya Allah rejeki yang saya peroleh juga tidak berkurang," ujar Abdurahman saat ditemui detikcom di rumahnya, Menteng Dalam Jakarta Selatan, Kamis (27/10/2016).
Abdurahman mengatakan keterbatasan fisik tidak jadi batasan orang untuk berbuat baik. Kakek Abdurahman juga meyakini kalau di balik rezeki yang diperoleh, ada hak untuk orang lain.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Foto: Kakek Abdurahman di kediamannya yang sederhana (Edo/detikcom) |
Sifat mulia Abdurrahman diakui oleh anak keenamnya bernama Fauziah (45). Dia menceritakan bapaknya itu memiliki karakter yang keras kepala, tetapi bertangung jawab dengan keluarga.
"Dari dulu bapak waktu sehat memang sudah seperti ini. Bapak tidak bisa melihat orang susah," kata Fauziah.
Fauziah menceritakan ayahnya kerap membagi rejeki ke anak-anak yatim piatu. Pria yang akrab disapa Abdul itu tak pernah mengharapkan timbal balik dari rejeki yang telah diberi itu.
"Ada satu anak yatim, yang dulu sering bapak bantu. Sekarang sudah menjadi pengusaha, sampai-sampai dia mengakui bapak sebagai ayah angkatnya. Setiap lebaran anak itu suka ngasih bapak beras satu karung, ya mungkin itu rejeki dari kebaikan bapak selama ini kali ya," paparnya.
Fauziah menganggumi sifat dermawan dari ayahnya. Meski di sisi lain, dirinya juga kasihan melihat kehidupan sang ayah yang masih di bawah garis miskin.
"Tapi memang sudah seperti itu sifat bapak. Kita mau bantu juga tidak bisa, karena hidup juga masih ngontrak dan penghasilan juga pas-pasan. Paling hanya bisa bantu tenaga untuk cuci-cuci baju bapak," pungkasnya.
(edo/miq)












































Foto: Kakek Abdurahman di kediamannya yang sederhana (Edo/detikcom)