Gempa tersebut terjadi pukul 15.17 WIB, Kamis (27/10/2016). Pusat gempa terletak pada 1,34 lintang utara dan 125,84 bujur timur, tepatnya di laut pada jarak 75 km arah tenggara Kota Bitung dengan kedalaman 94 km.
Dalam rilis dari Kepala Bidang Mitigasi Gempa dan Tsunami BMKG Daryono, jika ditinjau dari kedalaman hiposenternya, maka jenis gempa yakni menengah, sehingga wajar jika guncangannya dirasakan dalam wilayah yang luas.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sebagai sistem subduksi dobel, selain menujam ke arah timur di bawah busur Halmahera hingga kedalaman 300 km, maka di bawah Sangihe, zona Benioff lempeng Laut Maluku juga menunjam ke arah barat hingga mencapai kedalaman sekitar 600 km," ucap Daryono.
Daryono menambahkan, sistem subduksi lempeng Laut Maluku dalam beberapa tahun terakhir sangat aktif dalam membangkitkan gempa signifikan dengan kedalaman di atas 60 km. Dari hasil analisis peta tingkat guncangan (shake map) menunjukkan bahwa dampak gempa berupa guncangan cukup kuat dirasakan di Manado, Bitung, Kotamobagu, Bolaang Mongondow, Tagulandang, Tahuna, dan Pulau Mayou dalam skala intensitas II SIG BMKG (III-IV MMI). Banyak warga di daerah ini terkejut akibat guncangan gempa hingga berlarian berhamburan keluar rumah untuk menyelamatkan diri.
"Namun demikian hingga saat ini belum ada laporan mengenai kerusakan akibat gempa," ujar Daryono.
Menurut Daryono, hasil monitoring BMKG hingga saat ini belum terjadi gempa susulan. Dia mengimbau masyarakat di Sulawesi Utara tetap tenang.
"Khusus bagi warga yang bermukim di pesisir pantai diimbau tidak terpancing isu mengingat gempa yang terjadi tidak berpotensi tsunami," ucap dia.
(nwy/fjp)











































