"Tapi saya ingatkan, dokumen itu dibuat dengan hati-hati untuk menghindari pemalsuan dan pembelokan kata-kata. Jadi tiap baris ada angkanya," kata Hendardi di Kantor Imparsial, Jalan Tebet Utara II C, Tebet, Jakarta Selatan, Kamis (27/10/2016).
Dirinya juga mengkonfirmasi bahwa salinan laporan yang berjumlah 55 halaman adalah benar. "(Iya benar) 55 halaman (laporan hasil TPF)," lanjutnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Yang ada cuma itu tidak ada yang lain," kata Amirudin di lokasi yang sama.
Amnirudin juga tidak mau menjawab kontroversi hilangnya laporan asli TPF kepada Presiden SBY. Alasannya karena tim tersebut sudah bubar setelah periode tugas mereka berakhir.
"Saya tidak bisa jawab. Kan kita sudah bubar. Kami punya perhatian bukan pada dokumennya tapi urusan kepada Munir kenapa tidak selesai-selesai," ujarnya.
Dirinya tidak dapat menyembunyikan rasa kecewanya terhadap hilangnya dokumen asli laporan TPF Munir. Amirudin menganggap pemerintah saat itu memperlakukan dokumen rahasia yang sangat penting tersebut dengan cara tidak semestinya.
"Kami merasa pekerjaan keras itu kok dijawab hilang. Yang ditunggu langkah baru untuk menyelesaikan apa. Kami mau tanya apa Jokowi punya komitmen dan perhatian baru agar pesoalan ini lebih jelas," tutupnya. (bis/fjp)











































