"Pertama, merupakan intimidasi yang memaksa. Yang kedua memakai pembunuhan dan penghancuran secara sistematis sebagai sarana untuk suatu tujuan tertentu. Yang ketiga korban bukan tujuan, melainkan sarana untuk menciptakan perang urat saraf, yakni dibunuh satu untuk menakuti seribu orang," ujar Suhardi dalam sambutan acara pembukaan Workshop Tingkat Nasional yang diselenggarakan Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) di Hotel Lumire, Jalan Senen Raya No. 135, Senen, Jakarta Pusat, Selasa (25/10/2016).
Suhardi menjelaskan, terorisme saat ini bekerja secara rahasia dengan tujuan aksi mereka terpublikasi. Untuk itu, target dari objek terorisme dipilih.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pelaku dari aksi terorisme dimotivasi oleh idealisme yang kuat. Dari situ mereka rela mengorbankan nyawa atas nama agama dan kemanusiaan.
"Para pelaku kebanyakan dimotivasi oleh idealisme yang cukup keras, misalnya berjuang demi agama dan kemanusiaan. Hardcore kelompok teroris adalah kaum fanatik yang bersedia untuk mati," ujar Suhardi. (fdn/fdn)











































