Brainstat, Pemantau Sinyal Otak untuk Cegah Human Error Kecelakaan Transportasi

Brainstat, Pemantau Sinyal Otak untuk Cegah Human Error Kecelakaan Transportasi

Bartanius Dony A - detikNews
Senin, 24 Okt 2016 19:29 WIB
Brainstat, Pemantau Sinyal Otak untuk Cegah Human Error Kecelakaan Transportasi
Foto: Dody Qory sedang mempresentasikan Brainstat (Foto: Bartanius Dony/detikcom)
Jakarta - Mayoritas penyebab kecelakaan transportasi adalah human error. Untuk mencegahnya, Dody Qory dkk membuat Brainstat, alat pemantau sinyal otak untuk mencegah human error kecelakaan transportasi.

"Kecelakaan pesawat 70 persen didominasi oleh human error. Kami menawarkan aplikasi bernama Brainstat. Aplikasi ini menangkap sinyal otak. Lalu dia akan memetakan gelombang otaknya dan ditransmisikan ke aplikasi di smartphone. Ditangkap dari kepala gelombang otaknya, lalu disimpulkan ke smartphone," jelas Dody menerangkan alat buatannya.

Alat buatan Dody itu ditandingkan dalam Lomba Penelitian Transportasi Tingkat Nasional Tahun 2016 yang digelar Kementerian Perhubungan (Kemenhub) yang finalnya digelar Senin (24/10/2016) di Ruang Chevrontexaco, Fakultas Teknik Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dody menambahkan, Brainstat itu pada prinsipnya sama dengan alat yang dipakai di dunia kedokteran untuk mengetahui ada tidaknya epilepsi.

"Namun kita modifikasi menjadi alat untuk menentukan human error. Alat ini bisa mendeteksi level oksigen, saat memakai narkoba, maupun saat kita mengantuk. Untuk mendeteksi, alat ini bisa mengeluarkan alert. Misalnya saat kita mengantuk, akan ada suara dari orang yang kita cintai, misalnya suara anak kita 'Jangan ngantuk Pa'," papar dia.

Untuk mencegah kecelakaan transportasi, Brainstat ini bisa dimasukkan ke dalam dasboard pesawat, kereta, bus dan alat transportasi lainnya. Riset alat ini dilakukan Dody beserta 14 kolega perisetnya sejak tahun 2010.

Dody Qory sedang mempresentasikan Brainstat (Foto: Bartanius Dony/detikcom)Foto: Dody Qory sedang mempresentasikan Brainstat (Foto: Bartanius Dony/detikcom)
Dody Qory sedang mempresentasikan Brainstat (Foto: Bartanius Dony/detikcom)


"Kami sudah melakukan penelitian dari 2010 dan pada tahun 2015 sudah jadi final aplikasi Brainstat-nya. Kami sudah mempublikasikan ke beberapa media massa, dan ke luar negeri. Ini dianggap salah satu solusi dari Indonesia," tutur dosen Universitas Telkom Bandung ini bangga.

Meski bekerja sama dengan 15 periset lainnya, periset utama adalah dirinya dan seorang dokter spesialis otak dr. Tauhid Nur Azhar dari Bandung. Alat ini pun sudah diujicobakan pada berbagai moda transportasi.

"Sudah. Sudah dua tahun (dicoba). Dari mobil, simulator pesawat, kereta, mobil. Ide ini muncul tahun 2010. Kita kepikiran gimana caranya mencegah kecelakaan itu," tutur mahasiswa doktoral Biomedical Engineering di ITB ini.

Dia dan tim risetnya juga sedang mengembangkan Brainstat agar bisa dipasangkan di kursi pilot, untuk memeriksa kondisi otak pilot baik sebelum dan saat pilot menerbangkan pesawat. Sistemnya sama dengan USG yang sering digunakan untuk ibu hamil.

Brainstat, Pemantau Sinyal Otak untuk Cegah Human Error Kecelakaan TransportasiFoto: Dody Qory sedang mempresentasikan Brainstat (Foto: Bartanius Dony/detikcom)


"Kalau penelitian ini lancar, satu atau dua tahun lagi alat ini harusnya bisa diproduksi. Bagaimana bisa mendeteksi kalau mengantuk, gelombang delta dan theta di otak kita akan aktif. Manusia memang seperti sesuatu yang memiliki baterai. Kalau saat sedang sadar, gelombang beta, gamma, alpha akan aktif. Itu yang akan kita gunakan. Brainstat ini bisa mendeteksi ngantuk secara psikologis dan fisiologis," urai dia.

Harapannya, alat ini bisa dikerjasamakan dengan Kemenhub dan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) untuk penelitian lebih lanjut. Brainstat pun menjadi pemenang dalam Lomba Penelitian Transportasi Tingkat Nasional 2016. Dody dan kawan-kawan diganjar hadiah uang tunai Rp 50 juta dan education trip ke Canberra.

Dody dkk berhasil unggul dari 19 peserta lainnya yang berasal dari 10 wilayah di Indonesia. Dia juga akan mendapatkan Adi Cipta Tata Wahana yang akan diserahkan oleh Menteri Perhubungan pada 26 Oktober 2016. Lomba penelitian ini dibagi menjadi 2 kategori yaitu kategori SLTA-S1 dan kategori S2-S3. Berikut hasil lengkap juara lomba ini:

Kategori S2/S3:
1. Dody Qory Utama (DKI Jakarta)
2. Henny Harumi (Medan)
3. Evi Septiana Pane (Surabaya)

Kategori SMA/S1:
1. Andri Bharata Hutapea (Jakarta)
2. Sorfian (Pontianak)
3. Reza Aulia Akbar (Surabaya)

Sedangkan Kepala Litbang Kemenhub Agus Santoso mengatakan antusiasme mahasiswa dan pelajar tahun ini sangat tinggi, 300 orang, lebih banyak dibanding tahun sebelumnya.

"Lomba (hasil riset) ini nantinya akan dijadikan prototipe. Kita akan melakukan uji alat. Kita berharap penemuan ini bisa dijadikan mass production.
Kita bisa membuat alat-alat ini dipakai di seluruh rakyat Indonesia," jelasnya. (nwk/erd)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads